- VIVA.co.id/Dyah Pitaloka
![]()
Suasana jalan menuju kediaman Salim di Desa Selok Awar-Awar. Foto: VIVA.co.id/Dyah Pitaloka
“Tambang ini termasuk suplai konflik yang cukup besar,” ujar Manajer Kebijakan dan Pembelaan Hukum Walhi, Muhnur Satyahaprabu, kepada VIVA.co.id, Rabu, 30 September 2015.
Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia membenarkan, pertambangan memicu terjadinya konflik. "Banyak sekali. Hampir di seluruh Indonesia terjadi konflik. Masalahnya, pemerintah kita tidak mengurus tambang. Dia hanya mengurus pengusaha," ujar Ketua Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia, Gatot Sugiharto, kepada VIVA.co.id, Kamis, 1 Oktober 2015.
Menurut dia, banyak pertambangan yang dilakukan tanpa persetujuan dari masyarakat. Misalnya, ada yang tiba-tiba menambang di depan sawah. "Pengusaha merasa sudah mendapatkan izin, sedangkan rakyat tidak mendapatkan informasi kalau lahannya menjadi lokasi pertambangan," kata Gatot.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mengkritik aparat keamanan yang tak mampu memberikan jaminan keamanan terhadap warga yang menolak tambang. Wakil Ketua Komnas HAM, Siti Nurlaila, mengatakan, telah terjadi pelanggaran HAM dalam kasus pembunuhan Salim dan penganiayaan Tosan.
“Kasus ini terulang, berarti menunjukkan bahwa negara tidak hadir. Padahal, masyarakat sudah melapor sebelum terjadi pembunuhan itu bahwa mereka menerima ancaman. Kalau laporan masyarakat direspons oleh kepolisian, tentu penganiayaan nggak akan terjadi. Peristiwa itu menunjukkan aparatur tidak melindungi masyarakat,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 30 September 2015.
Hari menjelang sore. Namun, rumah mendiang Salim masih dipenuhi tamu yang datang dari Pasirian dan Lumajang. Polisi juga masih tampak berjaga. Hal serupa juga terlihat di kediaman Tosan. Rumah sederhana dengan dinding anyaman bambu itu tebuka lebar tanpa daun pintu dengan garis kuning di sekeliling rumah.
Polisi juga berjaga di Balai Desa Selok Awar-Awar. Di pendopo Balai Desa banyak berjajar kasur lipat milik polisi yang digunakan untuk istirahat di kala malam.
Di ujung bangunan, berlantai keramik putih, tepat di bawah lambang Garuda yang diapit foto Presiden dan Wakil Presiden RI, masih tercecer bercak darah milik Salim yang sudah mengering. Ceceran darah ini seolah menjadi bukti, bagaimana Salim disiksa hingga mati.