SOROT 367

Ribut-ribut di Kabinet

Sumber :
  • ANTARA/Widodo S. Jusuf

“Tahun ini boleh dibilang baru konsolidasi, tapi 2016 tahun kerja kerja kerja. Publik juga masih memaklumi kinerja Jokowi karena pemerintahan baru berjalan satu tahun,” kata Saiful.

img_title PPP: Menteri Baru Jokowi Pemain Veteran

Saiful mengungkapkan, lembaganya pernah melakukan survei dengan pertanyaan: apakah kinerja presiden buruk sehingga harus dicopot? “Masyarakat bilang jangan, itu tidak baik,” ujar dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Saiful, jawaban itu menunjukkan bahwa sikap kritis masyarakat belum sampai pada kategori kritis anarkis. Artinya masyarakat masih mau memberi kesempatan dalam melakukan konsolidasi kekuatan politik, guna menyentuh isu yang langsung berkaitan dengan masyarakat.

img_title Menanti Gebrakan Menteri Baru Ekonomi

“Ini justru sangat menantang ditahun kedua. Ekonomi buruk kan akibat dinamika ekonomi global juga,” ujar Saiful.

Menurut dia, permakluman yang diberikan publik terhadap kinerja buruk Jokowi di tahun pertamanya ini bisa jadi tidak akan dia dapat lagi bila tetap buruk di tahun kedua.

img_title Politikus PDIP: Reshuffle Jilid II Terlalu Murahan

“Tahun kedua, masyarakat akan menuntut pesan-pesan yang baik. Are you delivery or not? Kalau Presiden tidak mampu bangun infrastruktur, maka akan dihukum oleh rakyat,” ujarnya.

Saiful berpandangan, Jokowi masih punya kesempatan untuk menyolidkan kabinetnya. Menurutnya, reshuffle kabinet harus dilakukan dalam waktu dekat.

Alasannya, tahun depan sudah memasuki Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang baru. Sementara rehuffle berpotensi menimbulkan kegaduhan politik, yang akibatnya dikhawatirkan dapat menganggu akselerasi ekonomi yang lebih baik.

“Karenya Jokowi perlu bermain cantik dalam melakukan perubahan kabinetnya. Karena itu hal-hal yang mengganggu stabilitas politik, makanya harus diganti. Satu tahun itu lebih dari cukup untuk reshuffle,” kata dia.

Qodari juga berpandangan bawha saat ini merupakan momentum reshufle jilid kedua untuk menteri yang lebih teknis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jokowi harus lebih tegas untuk langkah politiknya. Memang tidak semua langkah poltik harus konfrontatif. Tapi harusnya dia bisa lebih tegas dan cepat. Lalu dilakukan evaluasi dia harus punya tim yang best of the best. Jadi bukan cuma good tapi great. Lalu harus bisa membawa perubahan suasana pada birokrasi,” ujarnya.

Direktur Eksekutif INDEF, Enny Sri Hartati, cenderung netral menanggapi isu reshuffle kabinet jilid II. Menurutnya, presiden yang melakukan evaluasi, dia yang mengetahui persis apakah seorang menteri perlu atau tidak diganti.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut