- VIVA.co.id/Dyah Pitaloka
Hendra menilai, seharusnya, sentra buah lokal tidak di satu daerah, tapi menyebar sehingga menekan biaya distribusi. Ada petani buah lokal yang belum mampu menghasilkan buah-buahan baik dan berkualitas.
Padahal, jika melihat luas panen produk buah-buahan lokal selama 2013-2014, beberapa di antaranya meningkat. Kenaikan tertinggi dialami anggur, rambutan, dan durian.
Luas panen anggur naik 31,3 persen dari 167 hektare pada 2013 menjadi 219 hektare setahun kemudian. Sementara itu, luas panen rambutan meningkat 18,1 persen dari 87,06 ribu hektare pada 2013 menjadi 102,8 ribu hektare pada 2014.
Pada 2013, luas panen durian 61,2 ribu hektare, sebelum meningkat 10,67 persen menjadi 67,7 ribu hektare pada 2014. Meskipun apel pada tahun ini menunjukkan panen melimpah, luas panen justru turun 25,7 persen.
Pada 2013, luas panen apel tercatat 3,73 ribu hektare, sedangkan pada 2014 hanya 2,77 ribu hektare.
Pemerintah pun tak tinggal diam. Sudah ada gagasan untuk mendukung pengembangan buah lokal dan mengurangi impor itu. Presiden Joko Widodo mendorong Institut Pertanian Bogor (IPB) membuat proyek percontohan pembudidayaan dan pengembangan buah lokal Nusantara.
“Dalam penelitian IPB, setidaknya ada 12 jenis buah lokal yang bisa menggantikan dominasi buah impor. Tanaman buah lokal ini bisa dikembangkan di berbagai daerah, yang masing-masing bisa berbeda satu sama lain,” kata Tim Komunikasi Presiden, Teten Masduki, (saat ini menjabat kepala staf kepresidenan) saat menyampaikan hasil pertemuan antara Rektor IPB Herry Suhardiyanto dengan Presiden Jokowi, di kantor Presiden, Jakarta, Rabu 24 Juni 2015, seperti dikutip dari lama Setkab.go.id.
Adapun buah-buah yang nantinya akan dibudidaya adalah jeruk, durian, pepaya, pisang, melon, semangka, manggis, nanas, avokad, rambutan, dan salak. “Tanaman buah lokal ini bisa dikembangkan di berbagai daerah, yang masing-masing bisa berbeda satu sama lain,” kata Teten dalam siaran pers itu.
Teten menyebutkan, pengembangan buah lokal itu harus dilakukan dalam skala kebun, bukan rumah tangga. “Setiap kebun buah membutuhkan lahan antara 30 hingga 50 hektare,” ujar Teten mengutip pertemuan Presiden Jokowi dengan Rektor IPB itu.
Kalau program ini dilaksanakan secara masif, Rektor IPB Herry Suhardiyanto, meyakini, pada 2025, Indonesia bisa menjadi produsen buah tropika terbesar di Asia.
Untuk itu, Presiden menyanggupi untuk mendorong setiap pemerintah daerah berlomba mengembangkan buah lokal ini. Sementara itu, Herry menyatakan siap untuk menyediakan bibit dan teknologinya.
Herry menjelaskan, program pengembangan buah lokal itu akan melibatkan petani buah. Ia berharap ada konsolidasi yang baik, sehingga produksi buah nasional meningkat dan mampu bersaing dengan buah impor.
Sebagai permulaan, kata Herry, pemerintah memanfaatkan acara festival bunga dan buah di Bogor, 16-18 Oktober. “Festival bunga dan buah ini menjadi jembatan antara penyandang dana dengan pelaku usaha budidaya buah,” ujar Herry.
Harapannya, melalui "Festival Bunga dan Buah" itu, berdampak pada produksi buah lokal untuk menyaingi buah impor.