- VIVA.co.id/Dyah Pitaloka
Pemilik lahan dengan luas sekitar 2 hektare itu tak pernah merasakan pasar luar negeri sejak memulai menanam jeruk sejak 1998. Hal serupa juga dirasakan oleh seluruh petani jeruk lain di Selorejo dan juga Dau.
Tak adanya koneksi dan jaringan membuat mereka kesulitan menyiapkan diri untuk berkompetisi di pasar luar negeri. Suwaji hanya mengetahui beberapa syarat yang harus dipenuhi bila ingin mengekspor buah jeruknya.
“Jumlahnya harus banyak dan konsisten sepanjang tahun. Kami belum punya bapak angkat yang bisa mengepul jeruk sepanjang tahun. Petani juga tak semua bisa panen sepanjang tahun, karena beban tunggakan utang yang harus segera diangsur,” katanya.
Kendala itu sudah pernah disampaikan ke petugas penyuluh lapangan setempat, meskipun jawabannya juga tidak memuaskan. “PPL juga bilang tidak tahu pasar luar negeri. Soal pemasaran sampai sekarang adalah upaya masing-masing petani, bukan pemerintah,” katanya.
Tak hanya itu, sosialisasi setelah panen kepada petani buah lokal dinilai Hendra juga masih kurang. Kondisi ini yang mengakibatkan petani kurang memahami bagaimana membuat buah-buahan yang mereka hasilkan bisa tahan lama.
"Kasihan petani-petani kita, banyak hasil panennya yang tidak layak jual, karena kekurangan pengetahuan pasca panen dan manajemen distribusi pendingin berantai agar panennya bisa tahan lama," tuturnya.
Pemerintah juga dinilai kurang mengembangkan penghasil sentra buah lokal yang berskala komersial, sehingga upaya itu diharapkan dapat menunjang petani Indonesia.
Sementara itu, Parhan (35), pedagang buah di Kalimalang, Jakarta Timur, mengatakan, petani buah harus siap untuk memasok buah dalam jumlah besar. Jangan sampai impor dibatasi, tetapi petani belum bisa memasok buah. Akhirnya, buah jadi langka dan mahal harganya.
Harapannya adalah buah lokal dapat merajai pasar buah di Indonesia. (art)