- Istimewa
Kondisi itu membuat suaminya semakin merasa tak berguna. Hingga suatu ketika Dedi memutuskan pergi ke Jakarta, meninggalkan istri dan anaknya di Padang, Sumatera Barat.
Awalnya, Dedi ingin berobat di Jakarta. Ia pun menyambangi salah satu rumah sakit mata di Jakarta. Namun, ternyata hasilnya sama.
Dokter menyatakan, mata Dedi sudah tidak bisa disembuhkan. Putus asa, Dedi akhirnya bergabung ke pusat rehabilitasi tunanetra, Bina Netra.
Di tempat ini, Dedi menjadi warga binaan atau siswa. Ia menjalani status sebagai warga binaan di pusat rehabilitasi ini selama dua tahun.
Tahun ketiga, Dedi diangkat menjadi instruktur untuk pelajaran manajemen dan anatomi. Kemudian, pada tahun keempat ia diangkat menjadi karyawan honorer.
Selang enam bulan ia ditunjuk menjadi pramu sosial. Di tempat ini, semangat Dedi kembali bangkit.
Ia kemudian mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. "Saya disupport kawan-kawan di Asia Work untuk mencari beasiswa," ujarnya.
Usaha dan kerja keras Dedi tak sia-sia. Salah satu kementerian akhirnya bersedia memberikan beasiswa untuk Dedi. Tak menunggu lama, ia langsung melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Widuri.
“Saya kuliah tahun 2012 dan selesai pada 2014,” ujar dia seraya bangga. Di tengah masa studinya itulah, Dedi bersua dengan Putra. Mereka bertemu di Asia Work, sebuah lembaga pelatihan. Putra kemudian mengajak Dedi bekerja di Pariwara.
Dedi mengatakan, ia hanya modal nekat saat memutuskan untuk kembali ke ‘dunia nyata’. Panti rehabilitasi menjadi cambuk buat dia untuk bangkit dan melawan keterbatasannya.
“Di panti banyak orang cacat yang harus diperjuangkan,” ujarnya. Ia mengatakan, ia tak mau penyandang disabilitas diperlakukan seperti ‘hewan ternak’ yang hanya diam di ‘kandang’ dan diberi makan.
Untuk itu, ia ingin membuktikan, bahwa penyandang disabilitas juga bisa berkarya dan berkontribusi seperti yang lain. Ia mengaku, tak mudah menjalani kehidupan sebagai tunanetra dengan fasilitas umum yang terbatas.
Aktifitasnya yang padat, membuat Dedi setiap hari harus mobile dan berpindah-pindah tempat. Pasalnya, selain mengurusi perusahaan dan ikut pelatihan, Dedi juga mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Bogor. “Kesandung, kejedot, ketabrak orang mah sudah biasa,” ujarnya getir.