- Dokumentasi Pribadi
“Bahkan saya tidak tahu bagaimana cara memimpin rapat saat awal-awal menjadi dirut,” ujarnya sambil tertawa.
Namun, berbekal berbagai pelatihan, serta segudang buku-buku manajemen dan motivasi, ia berhasil menakhodai perusahaan keluarganya tersebut.
Bahkan, di tahun pertama, ia mampu mencatatkan keuntungan besar untuk perusahaan. “Setahun saya bisa membangun rumah untuk orangtua,” ujarnya bangga.
Di tangan Putra, omzet dan keuntungan perusahaan terus meningkat. Berbagai penghargaan juga ia terima karena dinilai berhasil memimpin perusahaan dan terus membukukan keuntungan.
Meski demikian, ia terus menimba ilmu dan belajar baik dari buku maupun forum-forum pelatihan. Ia mengikuti sejumlah pelatihan, di antaranya di Emotional Spiritual Quotient (ESQ) dan Asia Work (AW). “Di AW saya belajar bagaimana mengatasi rasa takut,” ujarnya mengenang.
Namun, Putra merasa ada yang kurang. Keberhasilannya memimpin perusahaan menyisakan gundah dan resah.
Ia merasa hidupnya tak tenang karena selalu terasa ada yang mengganjal. Putra mengaku, untuk mendapatkan proyek dan pekerjaan, ia sering melanggar larangan Tuhan, termasuk menyuap dan "meng-entertain" pejabat.
Ia juga merasa gagal menjadi ayah dan suami yang baik. Harta yang berlimpah tak membuatnya bahagia.
Bahkan, rumah tangganya nyaris kandas usai bertengkar hebat dengan istrinya. “Saya sudah sempat mengatakan talak kepada istri saya,” ujarnya.
Namun, Tuhan berkehendak lain. Usai bertengkar, alih-alih menghibur diri, Putra memilih ke masjid. Di sana ia ‘menantang’ Tuhan.
Ia ingin melihat dan merasakan kemarahan Tuhan atas semua yang telah ia lakukan, baik dalam mengelola perusahaan maupun memimpin keluarga. “Ternyata, bukan kemarahan yang saya dapatkan, tapi keteduhan,” ujar dia.
Kemurahan dan kasih sayang Tuhan juga ia rasakan saat menemani ibunya menunaikan ibadah haji. Meski pengetahuan agamanya pas-pasan, ia merasa Tuhan telah membimbingnya dalam menunaikan rukun Islam kelima tersebut.
“Jangankan soal tata cara berhaji, saat itu baca Alquran saja saya tak mampu,” ujarnya tersenyum.
Pengalamannya di Tanah Suci tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk memperbaiki diri, termasuk dalam mengelola perusahaan. “Allah baik sama saya. Dia selalu menyelamatkan saat saya akan jatuh,” ujar Putra dengan suara bergetar.