- Dokumentasi Pribadi
Hijrah
Setelah enam tahun memimpin perusahaan, pada tahun 2012, Putra memutuskan untuk hijrah. Keyakinan itu membuat ia berbalik 180 derajat dalam mengelola perusahaan.
Ia tak lagi mau menyogok pejabat dan rekanan untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu, ia juga menghentikan tradisi memberi bingkisan untuk pejabat.
Padahal biasanya, ia bisa menghabiskan dana satu miliar rupiah untuk belanja bingkisan. “Saya ingin mencari rejeki yang halal,” ujar Putra.
Sejak itu, omzet dan keuntungan perusahaan terus menurun. Tiap tahun, pendapatan perusahaan anjlok.
Pasalnya, selain menolak menyogok dan "meng-entertain" pejabat dan rekanan untuk mendapatkan pekerjaan, Putra juga menolak proyek dari sejumlah perusahaan yang ia nilai tidak sesuai syariah Islam, salah satunya iklan dari bank.
Alasannya, bank mengandung riba. “Padahal 80 persen klien kami adalah bank,” ujarnya menjelaskan.
Kondisi keuangan perusahaan terus memburuk. Akibatnya, Putra bolak-balik dipanggil dan disidang keluarga.
Namun, ia berusaha meyakinkan, bahwa yang ia lakukan benar, yakni demi membersihkan perusahaan. Sayangnya, kondisi keuangan perusahaan sedikitpun tak beringsut dan terus terpuruk.
Sejumlah aset perusahaan bahkan dijual untuk menutupi utang. Puncaknya, pada pertengahan tahun 2015, ia kembali disidang keluarga.
Kali ini, Putra tak bisa meyakinkan keluarga besarnya dan ia diminta mundur karena dianggap gagal. Putra akhirnya meletakkan jabatannya sebagai dirut.
Namun, ia tak surut. Bersama dengan sejumlah temannya, ia mendirikan PT. Ummar, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang aplikasi dan membangun jejaring pengusaha muslim yang ingin hijrah.
Belajar dari kegagalannya mengelola bisnis sesuai syariah di perusahaan sebelumnya, ia berusaha menciptakan jejaring pengusaha muslim agar bisa menciptakan komunitas dan bekerja sama.
Sayangnya, karena masih baru, Putra belum bisa mengail untung dari aplikasi ini. Sementara, ia tak punya pekerjaan dan sumber penghasilan lain.
Akibatnya, ia ngap-ngapan untuk memenuhi kebutuhan istri dan keempat anaknya. Tak jarang, ia harus gali lubang tutup lubang untuk bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.
Beruntung, saudara-saudaranya berkenan mengulurkan tangan memberikan bantuan. “Saya sedang menjual rumah untuk bertahan.”
Fenomena Pengusaha Hijrah