- Dokumentasi Pribadi
![]()
Semakin banyak pengusaha muslim yang memilih hijrah dan berusaha berbisnis sesuai syariah.
Putra tak sendiri. Selain dia, banyak pengusaha muslim lain yang memilih hijrah dan berusaha berbisnis sesuai syariah.
Salah satunya Dian Ranggajaya (34). Pria asal Pekalongan, Jawa Tengah ini mengaku, ia sampai menutup sejumlah usahanya karena dinilai mengandung riba. “Saya berusaha mencari bisnis dan usaha yang sesuai syariah,” ujarnya, Rabu 6 Januari 2016.
Jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini sempat merintis usaha konveksi dan cinderamata. Ia juga pernah memimpin perusahaan trading.
Selain itu ia juga pernah menekuni bisnis jual beli emas. Namun, akhirnya ia menutup semua bisnis tersebut.
Alasannya, karena mengandung riba dan sejumlah hal yang dilarang agama. Ia kemudian mendirikan PT. Syariah Wealth Management, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan dana dengan sistem yang islami.
Selain itu, bersama sejumlah koleganya sesama pengusaha yang hijrah, ia mendirikan Sekolah Muamalat Indonesia (SMI). Menurut dia, sekolah ini didirikan sebagai tempat para pengusaha muslim belajar bisnis yang islami.
Menurut dia, banyak pengusaha yang mengalami kondisi seperti Putra, termasuk dia. “Banyak pengusaha yang merasa gundah dan tak bahagia meski bisnisnya sukses dan berlimpah harta. Masalahnya karena mereka menjalankan bisnis dengan cara kapitalis yang hanya dinilai dengan uang semata,” ujar pria yang ramah ini.
Di SMI, para pengusaha muslim yang hijrah dididik dan dibimbing bagaimana berbisnis secara islami. Ada beragam materi yang diberikan, mulai dari soal akad, pemahaman tentang riba hingga asuransi.
Pematerinya juga tak tanggung-tanggung, yakni doktor jebolan Arab Saudi. Peserta didiknya rata-rata adalah CEO dan pemilik perusahaan. Putra, merupakan salah satu alumni sekolah yang berdiri sejak 2013 ini.
Selain SMI, para pengusaha yang hijrah ini juga mendirikan berbagai organisasi dan komunitas. Salah satunya komunitas Pengusaha Tanpa Riba.
Pendiri komunitas Samsul Arifin mengatakan, komunitas tersebut berdiri pada tahun 2013. Menurut dia, banyak pengusaha besar yang mengeluh. Usaha mereka sudah berkembang, tapi masih terliliut utang. Misalnya omzet Rp100 miliar, utangnya malah menjadi Rp200 miliar.