- Reuters
"Ini berarti masyarakat kelompok ini lebih memilih membeli rokok dengan dana terbatasnya, dibanding membeli hal lain," kata perwakilan WHO di Indonesia, Sharad Adhikary, Kamis, 14 Januari 2016.
Lembaga Demografis Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyebutkan, uang yang digunakan keluarga miskin untuk membeli rokok, lima kali lebih besar dari uang yang digunakan untuk membeli telur, dan enam kali lebih besar dari uang yang digunakan untuk pendidikan anak.
Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) membantah keras pernyataan BPS dan WHO, bahwa rokok menjadi salah satu penyumbang kemiskinan terbesar. “Itu hanya cara mengambil perspektif. Gampangnya, pada saat daftar konsumsi dimunculkan beras no 1, no 2 rokok itu disebut kemiskinan terbesar, tapi tidak disebutkan itu soal nilai dan lain-lain,” ujar Sekretaris Jenderal GAPPRI, Hasan Aoni kepada VIVA.co.id, Kamis, 14 Januari 2016.
Ia bahkan menantang sejumlah pihak untuk melakukan penelitian terhadap orang miskin yang tak merokok. Itu dilakukan untuk membuktikan bahwa kemiskinan adalah sebab dari makro. “Banyak yang tidak merokok juga miskin. Ada sebab lain yang lebih besar. Statistik tidak bisa digeneralisasi,” ujarnya menambahkan.
Menurut dia, aspek kemiskinan itu makro. Artinya dipengaruhi oleh inflasi dan faktor lain. Makin tinggi harga rokok, makin tinggi kemiskinan disebutkan. “Maka yang menentukan rokok dan orang miskin itu karena negara. Karena negara yang menaikkan harga rokok.”
Terus Meningkat
Tingkat konsumsi tembakau di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, terutama pada pria. Sebanyak 67 persen pria dewasa mengkonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Sedangkan perokok dewasa perempuan jumlahnya 5 persen dari jumlah seluruh perokok. "Di kalangan muda, 1 dari 5 remaja usia 13-15 tahun mengkonsumsi tembakau," ujar Sharad.
WHO 'menobatkan' Indonesia sebagai surga perokok. Hal itu lantaran Indonesia tak mampu secara tegas mengatur tembakau yang dapat mendukung turunnya jumlah perokok. Indonesia bahkan menjadi negara yang memungkinkan industri tembakau berkembang sehat.

Peringatan kesehatan bergambar di kemasan rokok Indonesia relatif lebih kecil dibanding negara lain.
Ia mengatakan, di berbagai negara, telah diberlakukan beragam kebijakan, seperti peringatan kesehatan bergambar yang besar dan mengerikan pada kemasan untuk mempengaruhi pandangan publik terhadap rokok. "Di Indonesia gambarnya relatif lebih kecil, 40 persen dari permukaan kemasan," ujarnya menambahkan.