- ANTARA FOTO/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha
“Dulu saat ditangkap juga karena menyembunyikan amunisi titipan kan,” ujar sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu.
Bahrun bukan mahasiswa yang cemerlang dalam bidang akademik. Wakil Dekan III Fakultas MIPA UNS, Prof Sugiarto, mengatakan nilai akademik Bahrun tidak terlalu bagus di kampus.
Meski demikian, oleh kawan-kawannya ia dipercaya sebagai ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer.
“Dia malah tidak ikut organisasi keagamaan di internal kampus SKI (Siar Kerohanian Islam). Namun tidak tahu jika yang bersangkutan ikut di organiasi keagamaan di luar kampus. Yang kami tahu berdasarkan infoirmasi dari teman kuliahnya jika dia ketua himpunan mahasiswa jurusan,” ujar Sugiarto, Jumat pekan lalu.
Bahrun masuk kuliah pada tahun 2002 dan lulus tiga tahun kemudian. Hanya saja ketika disinggung detail mengenai kegiatan belajar di jurusan tersebut, Sugiarto mengaku tidak tahu dengan pasti.
“Sebatas itu saja yang bisa kami sampaikan. Intinya kalau dia itu nilai IPK-nya kurang bagus,” kata Sugiarto.
Meski demikian, Bahrun dikenal piawai mengoperasikan komputer dan memperbaiki jaringan teknologi informasi (TI). Kemampuan Bahrun Naim itu sempat dirasakan oleh Rutan Kelas 1A Solo. Menurut penuturan salah satu staf rutan, Junaedi, Bahrun sering memperbaiki komputer di rutan yang rusak. “Kalau soial komputer dia memang pintar,” ujar Sugiarto.
Mengaku Kenal Baasyir
Bahrun rupanya tidak saja cakap mengoperasikan komputer. “Dia mengaku mahir menggunakan senjata api,” ujar seorang sumber VIVA.co.id, Rabu 20 Januari 2016.
Saudara Bahrun yang menolak disebutkan namanya ini mengungkapkan pengakuan itu disampaikan Anggih - panggilan keluarga terhadap Bahrun Naim - pada tahun 2008.
Saat itu, Anggih datang ke rumahnya karena ada acara terkait khilafah. Dengan enteng, Bahrun Naim mengatakan, ia sudah mahir menggunakan senapan jenis AK-47 dan M16.
Di depan saudaranya itu, Anggih mengaku bisa mengoperasikan senjata tersebut karena sudah pernah ikut pelatihan militer di Solo.
Tak hanya itu, Anggih juga mengaku kenal dan dekat dengan Abu Bakar Baasyir. Pengasuh Pondok Pesantren Ngruki dan juga pemimpin Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) itu tengah menjalani hukuman penjara selama 15 tahun sejak 2011 akibat kasus terorisme.