- ANTARA FOTO/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha
Sugeng, salah satunya. Ia tak percaya, tetangganya itu dituduh sebagai otak dari bom Thamrin.
“Kaget saja karena tidak ada tanda-tanda jika Mas Naim seperti itu,” ujar Sugeng kepada VIVA.co.id, sehari setelah kejadian.
Menurut warga setempat, Bahrun Naim merupakan sosok yang dikenal memiliki kepribadian yang sangat sopan. Selain itu, jebolan D3 Ilmu Komputer, Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo ini juga pendiam.
Alumnus SMA Al Islam Solo tahun 2001 ini juga jarang meriung dan berkumpul dengan warga sekitar. Berbeda dengan ayahnya, Fathurohman, yang sangat aktif bertetangga.
“Kalau bapaknya memang orangnya baik dan sering bersosialisasi dengan warga. Sedangkan Mas Naim itu jarang berkumpul dengan masyarakat,” ujar Sugeng menambahkan.
Dia mengaku sudah jarang melihat Bahrun Naim di rumah orangtuanya. Terakhir kali melihat putra nomor dua dari empat bersaudara itu sekitar setahun lalu.
“Saya tidak lihat Mas Naim sudah lama sekali. Kira-kira tahun lalu terakhir melihatnya.”
Tak Pernah Masuk Pesantren
Sebelum kuliah di Progam Diploma D3 Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Bahrun Naim mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah atas di SMA Al Islam Solo. Saat kelas 3, ia mengambil penjurusan IPA.
“Saat itu Bahrun Naim di kelas 3 IPA1,” kata salah satu teman sekolahnya yang menolak disebutkan namanya.
Dahlan Zaim, adik kandung Bahrun, mengatakan kakaknya tidak pernah masuk pesantren. Menurut Dahlan, kakaknya hanya mengenyam pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi.
“Kakak saya itu lulusan Al Islam. Setelah itu langsung diterima di Ilmu Komputer Fakultas MIPA UNS,” kata Dahlan, Selasa 18 Januari 2016.
Sumber VIVA.co.id mengungkapkan, Bahrun awalnya dikenal sebagai aktivis yang tak terlalu radikal. Saat itu dia masih bergabung dengan HTI.
Namun, lambat laun, Bahrun mulai kenal dengan beberapa orang yang berasal dari kalangan radikal yang ada di Solo. Bahkan, bagi kalangan ‘kelompok lama,’ ia dikenal sebagai tempat yang paling aman untuk menyembunyikan berbagai barang yang akan digunakan untuk melakukan aksi teror.