- ANTARA FOTO/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha
Setelah pertemuan itu, Bahrun menghilang. Berdasarkan keterangan dari sumber yang berbeda, awal 2015, Bahrun berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.
Bahrun pergi dengan menggunakan paspor asli yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Surakarta. Ia berangkat ke Suriah dengan mengajak istrinya yang kedua, yang bernama Siti Lestari.
VIVA.co.id meluncur Kantor Imigrasi Surakarta guna memastikan informasi tersebut. Namun, Ketua Pelaksana Harian Kantor Imigrasi Surakarta, Agus Setiadi, berdalih belum mengecek informasi itu.
“Kami belum cek. Kami masih menununggu perintah dari dirjen,” ujar Agus singkat.
Pemain Baru
Peneliti terorisme, M. Zaki Mubarak, mengatakan Bahrun merupakan ‘pemain’ baru. Menurut dia, nama Bahrun baru muncul pada 2010 dan tak banyak dikenal oleh kelompok jihadis.
Namanya muncul karena dia tersangkut kasus hukum menyimpan ratusan peluru. “Artinya penokohan kepada Bahrun Naim ini dibuat-buat,” ujar Zaki kepada VIVA.co.id, Selasa 19 Januari 2016.
Menurut dia, Bahrun bukan 'pemain besar.' Dia memang ahli IT namun bukan figur sentral seperti tudingan polisi.
Namanya baru muncul terkait dengan kasus amunisi. Namun setelah itu tidak terlihat kiprahnya.
“Ketika Kepolisian menyebutkan pengikutnya ada 200 orang, saya ragu. Ideologi seperti apa yang menjadi pengikat. Padahal dia tidak pernah melontarkan gagasannya,” ujar pengamat asal Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Meski demikian, Bahrun dinilai berhubungan dengan sejumlah kelompok garis keras di Tanah Air. Misalnya dengan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang merupakan pecahan dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
Dalam perkembangannya JAT pecah antara kelompok yang mendukung Negara Islam Irak dan al-Syam (ISIS) dengan yang menolak berbaiat dengan pemimpin ISIS, Abu Bakar al Bagdadi. “Bahrun Naim ada di kelompok JAT yang mendukung ISIS,” ujar Zaki.
Menurut Zaki, secara ideologis, Bahrun banyak belajar dari Aman Abdurahman, tokoh JAT yang mendukung ISIS. Pemain-pemain baru (teroris) tidak cukup mengenal Abu Bakar Baasyir.
Pasalnya, Baasyir lebih dekat dengan kelompok-kelompok Afganistan. Sementara, teroris sepuluh tahun terakhir bukan generasi Afganistan.
Mereka lebih kenal dengan Aman Abdurahman yang mewakili kelompok baru. “Apalagi dia pemandu keagamanan dan keilmuannya melebihi Baasyir.”