- Danar Dono - VIVA.co.id
Ridwan mengisahkan, masa itu setiap perahu akan berisi tiga sampai empat orang laki-laki atau perempuan. Di perahu tersebut, si laki-laki akan melihat ke perahu yang berisi perempuan.
Jika laki-laki senang dengan perempuan yang ada di perahu lainnya ia akan melempar kue yang bernama tiong cu pia. Kue ini terbuat dari campuran terigu yang di dalamnya ada kacang hijau.
Bagi perempuan yang ditaksir, jika senang, ia akan melemparkan kue sejenis ke arah laki-laki yang menyukainya. “Dari sini lah kemudian kawasan ini berubah menjadi Kalijodo, karena menjadi kawasan untuk mencari jodoh," lanjut Ridwan.
![]()
Budayawan Betawi, Ridwan Saidi.
Berbeda dengan saat ini, pada masa itu Kali Angke masih jernih. Karena itu, meski tradisi ini dilakukan oleh etnis Tionghoa, tetapi masyarakat umum tetap memadati Kali Angke untuk melihat perayaan tersebut.
Sejarawan Jakarta, JJ Rizal, mengatakan, dilihat dari toponomi nama, Kalijodo adalah Kali dan Jodo, yang artinya tempat orang mencari jodoh. Menurut dia, pada tahun 1950, setelah Indonesia merdeka dan Ibu Kota kembali ke Jakarta, ada keriaan dan kebahagiaan karena bisa hidup secara normal.
Berangkat dari kondisi itu, masyarakat pun mencari ruang-ruang dimana mereka bisa melepaskan diri dari persoalan-persoalan revolusi. “Nah, saat itu kemudian orang-orang menemukan lokasi yang indah dan romantis, ada kali, lingkungan asri,” ujar Rizal kepada VIVA.co.id.
Dia menuturkan, saat itu daerah tersebut belum memiliki nama. Namun, karena tempatnya yang romantis, tempat tersebut dijadikan lokasi hang out oleh para pemuda pemudi.
“Mereka hang out ke sana kemudian kenalan, ngobrol-ngobrol, kumpul, kenalan dan akhirnya berjodoh. Karena banyak yang berjodoh akhirnya tempat tersebut dikenal sebagai Kalijodo,” lanjut Rizal.
Menurut dia, tempat itu sangat fenomenal pada era 1960-an. Bahkan pada tahun 1965, seorang komikus terkemuka Indonesia, Ganes TH membuat komik khusus dengan judul "Kalijodo."
Sejak saat itu, Ganes memasuki penceritaan dalam komik-komiknya tentang dunia Betawi, Jakarta. “Jadi Kalijodo menjadi ikon Kota Jakarta dari tahun 50-an sampai 60-an,” kata Rizal.