- VIVA.co.id
Dia melihat ada peluang dari masyarakat untuk mengusulkan arah perubahan yang lebih baik dari anggaran negara. Hal itu agar pembiayaan program pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat lebih optimal.
Selanjutnya...Catatan Ridaya
Catatan Ridaya
Setelah 18 tahun masa reformasi bergulir, Ridaya mencatat ada sejumlah kemajuan di Tanah Air. Pers relatif bebas, reformasi politik juga bergulir.
Awalnya, kata dia, para mahasiswa tak terpikir soal kebebasan pers. Tapi ternyata, kebebasan pers membantu memperluas cakupan tentang reformasi. "Itu bonus yang kita enggak menyangka," ujarnya.
Setali tiga uang. Dari segi reformasi politik juga sudah banyak kemajuan. Masyarakat bebas untuk masuk partai, pemilu yang relatif fair, sistem pemilu yang relatif maju. "Belum sempurna demokrasi kita, tapi kita sudah di jalur yang benar untuk membangun sistem demokrasi yang sehat," katanya.
Namun, masih banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Penegakan hak asasi manusia masih terbatas. “Baru 20 persen,” kata Ridaya. Penegakan HAM ini terutama dalam hal perlindungan terhadap kelompok berbeda kepercayaan dari kelompok mayoritas. Begitu juga penyelidikan HAM, seperti peristiwa ‘98 dan peristiwa ‘65 yang belum tuntas.
Persoalan lain yang mesti diperbaiki adalah pembangunan ekonomi. Meski terjadi pertumbuhan ekonomi, belum dinikmati oleh semua kalangan. "Kita harus punya ambisi untuk sebanyak mungkin orang bisa menikmati hasil pembangunan. Tidak ada lagi yang tinggal di kolong jembatan, gubuk reyot," ujarnya.
Di tengah kesibukannya, Ridaya tetap berusaha menjalin komunikasi dengan sesama aktivis 98. Mereka tetap berhubungan satu sama lain untuk saling menjaga idealisme.
Dia menyayangkan, banyak rekan aktivis 98 yang sudah main proyek. "Waktu akan menguji kita semua siapa yang masih pegang nilai-nilai yang kita tabur saat jadi aktivis mahasiswa atau dimakan hasrat untuk cepat kaya," ujarnya. [aba]