SOROT 396

Waktu Akan Menguji Aktivis 98

Ridaya Laodengkowe
Sumber :
  • VIVA.co.id

Gerakan mahasiswa pun akhirnya menjamur. Demonstrasi terjadi di sejumlah tempat, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Solo. April 1998, mahasiswa UGM menggelar demonstrasi besar-besaran, meminta Soeharto mundur dari posisi Presiden.

img_title Aktivis 98 Ini Sebut Ganjar-Mahfud Bukan Figur yang Bisa Lanjutkan Program Jokowi

Adrenalin mereka saling terpacu ketika melihat rekan-rekannya semakin menunjukkan aksinya. Kota-kota itu pun menjadi “panas”. Ridaya menampik ada skenario munculnya demonstrasi itu. “Itu tidak ada skenario, cuma psikologi massa saja. Itu secara alamiah yang bergulir kemudian terjadi eskalasi," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Suasana semakin membara ketika terjadi penembakan empat mahasiswa Trisakti, pada 12 Mei 1998. Kerusuhan lantas pecah di Jakarta dan beberapa kota besar lain, pada 13-15 Mei 1998.

img_title Serial Rencana Besar Trending di Media Sosial, Disorot Banyak Pihak, Kok Bisa?

Massa menentang Soeharto semakin banyak turun ke jalan. Ridaya melihat fenomena itu sudah yakin massa tak bisa dibendung. Puncak eskalasi terjadi pada 20 Mei. "Psikologis juga 20 Mei hari Kebangkitan Nasional, enggak boleh lagi ada Soeharto. (Soeharto) harus turun," ujarnya. Dan keesokan harinya, Soeharto lengser.

Selanjutnya...Profesional

img_title Aktivis 98: 2024 Momentum Genting, Salah Pilih Pemimpin Proses Pembangunan akan Mundur

Profesional

Kini, para aktivis 98 tak lagi demonstrasi turun ke jalan. Mereka menekuni bidangnya masing-masing. Di antara mereka ada yang terjun ke jagat politik dengan menjadi anggota DPR, ada juga yang menjadi staf ahli kementerian, dan profesi lainnya.

Ridaya sendiri saat ini bekerja di dunia yang dekat dengan lembaga swadaya masyarakat. Ridaya yang meraih master di bidang International Political Economy, POLSIS, University of Birmingham UK (2004) ini berkecimpung di development sectors (project management), khususnya pada isu-isu tata kelola, natural resources management, budget advocacy, dan knowledge sector.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pria kelahiran Banggai, Sulawesi Tengah, Juni 1974 sudah 13 tahun bergerak di dunia LSM ini. Penghobi lari jarak jauh ini pernah bekerja di Perkumpulan Institute for Development and Economic Analysis (IDEA), Indonesia Corruption Watch (ICW), dan Publish What You Pay (PWYP) Indonesia.

Saat ini, ayah tiga anak itu tengah sibuk menyusun tim untuk menyusun sebuah rekomendasi kebijakan guna memperbaiki sistem penganggaran negara. "Presiden di media tiga minggu lalu bilang ingin ubah pendekatan-pendekatan kita dari money follow function ke money follow programme," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut