- VIVA.co.id
Gerakan mahasiswa pun akhirnya menjamur. Demonstrasi terjadi di sejumlah tempat, seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang, Solo. April 1998, mahasiswa UGM menggelar demonstrasi besar-besaran, meminta Soeharto mundur dari posisi Presiden.
Adrenalin mereka saling terpacu ketika melihat rekan-rekannya semakin menunjukkan aksinya. Kota-kota itu pun menjadi “panas”. Ridaya menampik ada skenario munculnya demonstrasi itu. “Itu tidak ada skenario, cuma psikologi massa saja. Itu secara alamiah yang bergulir kemudian terjadi eskalasi," ujarnya.
Suasana semakin membara ketika terjadi penembakan empat mahasiswa Trisakti, pada 12 Mei 1998. Kerusuhan lantas pecah di Jakarta dan beberapa kota besar lain, pada 13-15 Mei 1998.
Massa menentang Soeharto semakin banyak turun ke jalan. Ridaya melihat fenomena itu sudah yakin massa tak bisa dibendung. Puncak eskalasi terjadi pada 20 Mei. "Psikologis juga 20 Mei hari Kebangkitan Nasional, enggak boleh lagi ada Soeharto. (Soeharto) harus turun," ujarnya. Dan keesokan harinya, Soeharto lengser.
Selanjutnya...Profesional
Profesional
Kini, para aktivis 98 tak lagi demonstrasi turun ke jalan. Mereka menekuni bidangnya masing-masing. Di antara mereka ada yang terjun ke jagat politik dengan menjadi anggota DPR, ada juga yang menjadi staf ahli kementerian, dan profesi lainnya.
Ridaya sendiri saat ini bekerja di dunia yang dekat dengan lembaga swadaya masyarakat. Ridaya yang meraih master di bidang International Political Economy, POLSIS, University of Birmingham UK (2004) ini berkecimpung di development sectors (project management), khususnya pada isu-isu tata kelola, natural resources management, budget advocacy, dan knowledge sector.
Pria kelahiran Banggai, Sulawesi Tengah, Juni 1974 sudah 13 tahun bergerak di dunia LSM ini. Penghobi lari jarak jauh ini pernah bekerja di Perkumpulan Institute for Development and Economic Analysis (IDEA), Indonesia Corruption Watch (ICW), dan Publish What You Pay (PWYP) Indonesia.
Saat ini, ayah tiga anak itu tengah sibuk menyusun tim untuk menyusun sebuah rekomendasi kebijakan guna memperbaiki sistem penganggaran negara. "Presiden di media tiga minggu lalu bilang ingin ubah pendekatan-pendekatan kita dari money follow function ke money follow programme," ujarnya.