- Dokumentasi Pribadi Savic Ali
Savic menuturkan, ia sudah terjun di gerakan mahasiswa sejak 1994. Saat menimba ilmu di Institut Agama Islam Negeri (sekarang Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ia aktif di Arena, Lembaga Pers Mahasiswa UIN. Selain itu, ia terlibat dan aktif di Keluarga Mahasiswa Pencinta Demokrasi (KMPD), sebuah organ gerakan di kampus yang sama.
Savic sempat jadi anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebuah organisasi ekstra kampus yang basis anggotanya mahasiswa NU. Namun, ia mengaku tak aktif.
Tahun 1996, ia hijrah ke Jakarta. Niatnya adalah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Usai menginjakkan kaki di ibu kota, Savic langsung aktif di sejumlah forum diskusi. “Saya kenal Jakarta itu gara-gara demo, di Mercu Buana, Untag yang di Priok, IPB, Pakuan di Bogor, kampus ITI di Serpong, sampai kampus yang namanya Akademi Sekretaris Tarakanita,” dia mengenang.
![]()
Savic Ali (kedua dari kanan) saat Sarasehan dan Kongres I FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia). Foto: Dok. Pribadi Savic Ali
Usai Reformasi 1998, Savic masih terlibat aktif di gerakan mahasiswa. Salah satunya mendirikan Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred).
Ia mengatakan, Famred merupakan sempalan dari Forkot. Ia sengaja mendirikan organisasi baru karena sudah tak sejalan dengan Forkot. Selain itu, ia membidani lahirnya Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI).
Ia mengatakan, FPPI merupakan gabungan organisasi gerakan mahasiswa dan pemuda dari sejumlah daerah. “Jadi, kelompok aktivis dari berbagai kota seperti Jakarta, Malang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, nasional lah itu semua bergabung di FPPI,” kata dia.
Selanjutnya...Reformasi Dulu dan Kini
Reformasi Dulu dan Kini
“Dulu targetnya adalah menurunkan Soeharto,” ujar Savic ketika disinggung soal tuntutan yang disuarakan dalam aksi massa 1998.
Ia mengatakan, isu itu dimunculkan karena bertahun-tahun di bawah rezim ototarian, Soeharto tidak mampu mendistribusikan kemakmuran kepada masyarakat. Kekayaan hanya terkonsentrasi kepada segelintir orang dan kelompok. Selain itu, secara ekonomi dan politik, masyarakat tidak punya kebebasan.
Savic menjelaskan, sebagian dari agenda reformasi sudah kesampaian. Misalnya, berkurangnya kekerasan yang dilakukan negara terhadap sipil. “Dulu kan mau apa-apa itu yang bertindak tentara bawa senjata. Paling tidak orang tidak lagi hidup dalam ancaman atau ketakutan diambil oleh polisi, TNI, aparat semaunya tanpa hukum, tanpa tahu kesalahannya apa. Itu satu hal kita nikmati hari ini,” ujarnya.