- Dokumentasi Pribadi Savic Ali
![]()
Sementara itu, menurut dia, partai politik masih cenderung sentralistik dan oligarkis. “Di dunia sekarang, aku melihat sektor lain (non-politik) justru sering bisa mendorong perubahan sosial. Media dan teknologi misalnya,” ia menambahkan.
Meski demikian, ia menilai, apa yang dilakukan masih menjadi bagian dari gerakan sosial. Ia mengatakan, semua yang ia kerjakan memiliki dampak untuk masyarakat.
“NUtizen kan kontennya untuk tetap menjaga masyarakat muslim tetap toleran. Kenapa video, karena generasi ke depan lebih akrab dengan video ketimbang membaca artikel,” dia menerangkan.
Sementara itu, website Islami.co dimaksudkan untuk meng-counter radikalisme yang muncul dan marak setelah reformasi. “Era reformasi semangatnya kan kebebasan. Kalau dulu kan kebebasan itu dirampas oleh negara. Sekarang, kebebasan itu banyak dirampas oleh kelompok sipil garis keras. Itu makanya beberapa tahun ini aku konsen di situ.”
Selanjutnya...Berawal dari Diskusi dan Bernyanyi
Berawal dari Diskusi dan Bernyanyi
Nama Savic mungkin sudah tak asing di telinga para aktivis yang terlibat dalam Gerakan Reformasi 1998. Ia merupakan salah satu pendiri Forum Kota (Forkot), sebuah organ gerakan yang rajin "turun ke jalan", menuntut Reformasi.
“Forkot merupakan aliansi kelompok-kelompok gerakan kampus yang ada di Jakarta dan sekitarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Forkot lahir dari sejumlah pertemuan yang dilakukan secara berkala oleh para aktivis di seputaran Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Menurut dia, nama aliansi itu sebenarnya bukan Forkot, tapi Komunitas Aksi Mahasiswa se-Jabodetabek. “Namun, di luar kami biasa disebut dengan Forkot,” ujarnya.
Menurut dia, hampir semua kampus di Jakarta dan sekitarnya pernah ia sambangi untuk diskusi dan mengajak mereka untuk terlibat aksi 1998. Awalnya, hanya ketemu dan ngobrol. Namun, lambat laun mereka mulai berani membuat mimbar bebas di kampus.
Savic menambahkan, saat itu istilahnya bukan demonstrasi, tapi mimbar bebas. Mimbar bebas itu diisi dengan orasi dan nyanyi-nyanyi. “Saya datang ke sana kasih orasi, berikan support. Lama-lama pengorganisasian terbentuk, baru ikut aksi keluar di jalanan. Saya dulu kerjaannya hampir tiap hari demo, mendatangi kampus,” ujarnya.