SOROT 396

Setia di Garis Massa

Savic Ali (tengah) bersama Romo Sandyawan Sumardi dan Romo Mudji Sutrisno. Foto: Dok. Pribadi Savic Ali
Sumber :
  • Dokumentasi Pribadi Savic Ali

Menurut dia, kebebasan politik, kebebasan berorganisasi, kebebasan bersuara secara umum juga sudah memuaskan. “Orang ngomong apa pun di Twitter dan Facebook boleh saja toh. Di era ototarian itu semua tidak mungkin,” ujarnya menambahkan.

img_title Aktivis 98 Ini Sebut Ganjar-Mahfud Bukan Figur yang Bisa Lanjutkan Program Jokowi

Meski demikian, ia mengaku prihatin. Sebab, partai politik yang lahir karena berkah reformasi tak sepenuhnya bekerja untuk reformasi, untuk clean government, untuk rakyat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, partai politik masih bekerja untuk kepentingan mereka sendiri dan kelompoknya.

img_title Serial Rencana Besar Trending di Media Sosial, Disorot Banyak Pihak, Kok Bisa?

Selain itu, ia menyoroti maraknya aksi masyarakat yang melakukan tindak kesewenangan seperti aparat zaman Orde Baru. Misalnya membubarkan diskusi, melarang diskusi, menggasak orang, melarang orang. “Itu semua praktik ototarianisme, ototarian politik,” ia menegaskan.

Ia mengatakan, hal itu terjadi akibat ketidakdewasaan masyarakat dalam memaknai demokrasi. Karena, berpuluh-puluh tahun masyarakat tak pernah dididik bagaimana berdemokrasi, karena dulu semua ditentukan oleh negara.

img_title Aktivis 98: 2024 Momentum Genting, Salah Pilih Pemimpin Proses Pembangunan akan Mundur

“Jadi, ibaratnya, dalam konteks politik kita itu masih anak kecil. Namanya anak kecil dapat kebebasan, ya sewenang-wenang sama temannya, maunya menang sendiri, latah dan tidak dewasa dalam konteks demokrasi,” ujarnya.

Zaman dulu subversi hukumannya bisa bertahun-tahun. Namun, saat ini sudah tidak ada, jauh lebih ringan. Namun, perilaku kekerasan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat bisa berbahaya, karena bisa memunculkan konflik horizontal.

“Ini yang tidak boleh terjadi. Ironisnya, kalau zaman dulu aparat keamanan menjadi garda terdepan negara menakut-nakuti atau menekan rakyat. Sekarang, aparat gamang untuk menegakkan hukum. Polisi tidak berani menindak kelompok-kelompok yang melakukan tindakan kekerasan, premanisme, preman berjubah dibiarkan oleh polisi,” dia menyesalkan.

Ia menilai, saat ini belum banyak perubahan di level aparat, utamanya di Kepolisian dan TNI. Di level tengah tak banyak berubah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di level atas mungkin sudah berubah, tak ada lagi Fraksi TNI di DPR, Presiden juga sudah berganti beberapa kali, menteri juga sudah lebih terbuka dari kelompok mana saja. “Tapi di level middle, tentara dan kepolisian serta birokasi tidak banyak perubahan,” ujarnya.

Savic mengatakan, ia masih menjalin komunikasi dengan sesama aktivis 1998. Namun, sebagian besar sudah bekerja di dunia profesional. Sebagian temannya sudah ada yang sibuk berbisnis atau menjadi politisi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut