- VIVA.co.id/Daru Waskita
VIVA.co.id – Yogyakarta tak pernah sepi, meski di bulan Ramadan sekalipun. Suasana Malioboro bahkan juga tak pernah surut pengunjung. Tak jauh dari Malioboro, ada jalan bernama Wijilan. Daerah itu terkenal sebagai 'Kampung Gudeg'.
Hari itu, 9 Juni 2016, tukang becak terlihat hilir mudik mengantar wisatawan. Mereka, minta diarahkan menuju Jalan Wijilan. Banyak yang penasaran, bagaimana nikmatnya gudeg khas Yogyakarta dengan cita rasa manisnya.
Salah satu warung gudeg paling sohor di Yogyakarta adalah Gudeg Yu Djum yang terletak di Jalan Wijilan Nomor 167 atau selatan plengkung Wijilan.
Lokasinya hanya 10 menit dari Malioboro dan hanya lima menit dari Keraton Yogyakarta. Saat berkunjung ke Kota Pelajar ini, gudeg legendaris satu ini wajib dicicipi.
Gudeg Yu Djum adalah warung makan kuliner khas Yogya yang berdiri sejak 1942. Gudeg Yu Djum menyajikan gudeg dengan krecek pedas, ayam dan telor bumbu gudeg, termasuk tahu dan tempe bacem.
Dimasak dengan cara tradisional dan dengan bumbu pilihan yang menjadikan Gudeg Yu Djum memiliki rasa gurih dan manis yang pas. Gudeg Yu Djum cocok dan diminati oleh segala kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa hingga artis maupun pejabat sekalipun. Warung ini, buka dari pukul 06.00-21.00.
Tetap Ramai di Bulan Ramadan
Waktu masih menunjukkan pukul 15.00. Tiba di depan rumah makan Gudeg Yu Djum berlantai dua, terlihat kesibukan para pelayan, membungkus gudeg untuk para pemesan.
Tampak pula beberapa kendaraan dan sejumlah mobil membawa pembeli antre di depan warung yang khas dengan desain interior Jawa. Setiap sore bulan Ramadan, warung itu memang tetap ramai, meski tak seramai di hari biasa. Tetap banyak pengunjung datang untuk berbuka puasa, atau bahkan membeli sayur gudeg untuk berbuka di rumah dan santap sahur.
![]()
Sebuah etalase berukuran lebar satu meter dengan panjang dua meter dan tinggi satu meter juga terlihat di warung itu. Di dalamnya, terdapat tiga panci dengan ukuran besar berisi gudeg, sambal krecek dan telur serta daging ayam.
Di atas etalase tampak tumpukan kardus yang akan digunakan sebagai tempat menata gudeg untuk pembeli yang memilih membawa pulang makanan khas tersebut. Di sisi lain etalase terdapat meja dan beberapa kendi yang juga digunakan sebagai tempat gudeg.