- VIVA.co.id/Purna Karyanto
Menjadi juara di arena sekelas Olimpiade tentunya selalu jadi sebuah impian bagi seluruh olahragawan di muka bumi. Bidikan ini sebagai ajang pembuktian untuk menjadi yang terbaik di dunia olahraga.
"Olimpiade itu momen yang pasti sangat dinantikan bagi setiap atlet. Merebut medali emas tentunya torehan puncak sebagai olahragawan karena di situlah nama kita akan dikenang dalam sejarah dunia olahraga," jelas Susy Susanti yang identik dengan julukan 'Ratu Bulutangkis Indonesia' saat ditemui VIVA.co.id.
"Saat itulah momen yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya. Suatu kemenangan yang luar biasa dengan mempersembahkan emas pertama bagi Indonesia. Saya bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa ini, meski sebelumnya target harus emas ini sempat membuat saya menjadi terbebani. Tapi, saya mampu membuktikan hal itu," ungkap wanita 45 tahun ini.
Baca juga:
Perasaan bangga masuk buku sejarah sangat dirasakan Susy. Apalagi, ia mengukuhkan bulutangkis sebagai cabang olahraga yang begitu mengakar dengan kejayaannya dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Dan euforia serta momen mengharukan itu kini kembali melanda dan dinantikan oleh masyarakat Tanah Air dalam mendukung perjuangan para pebulutangkis terbaik Indonesia di ajang Olimpiade di Rio de Janerio, Brasil, pada 5-21 Agustus 2016.
Tercatat 10 atlet bulutangkis terbaik negeri ini akan bertarung dalam 5 sektor berbeda demi memberikan yang terbaik untuk Merah Putih. Mereka adalah Tommy Sugiarto (tunggal putra), Linda Wenifanetri (tunggal putri), Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (ganda putra), Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (ganda putri), Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Praveen Jordan/Debby Susanto (ganda campuran).
Asa di Pundak 10 Orang
Perjalanan para andalan Indonesia itu menggapai tiket Olimpiade tidaklah mudah. Berbagai tantangan berat mewarnai langkah mereka menuju Negeri Samba.
Mereka harus bisa masuk kualifikasi akumulasi poin dan peringkat sebagai syarat menuju Olimpiade yang dikeluarkan Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) dalam periode 4 Mei 2015 hingga 1 Mei 2016. Setiap negara juga hanya dapat mengirim maksimal dua wakil pada masing-masing sektor di posisi 8 besar, dengan mengacu pada posisi di rangking dunia yang juga dibedakan antara sektor tunggal dan ganda.