Sumber :
- VIVA.co.id/Dian Tami
Â
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam, kami berhasil mencapai puncak tertinggi Pegunungan Himalaya dengan sepeda motor. Hamparan salju serta pegunungan terlihat jelas. Sebagai salah satu tujuan wisata, Khardung La ternyata tak pernah berhenti dikunjungi wisatawan dunia.
Â
Baca Juga
Setelah menempuh 100 kilometer, akhirnya kami sampai di Khardungla Top
Â
Oksigen di Khardung La yang sangat tipis, disebutkan mampu menyebabkan high altitude sickness, sehingga para pengunjung yang berhenti di Khardung La Top, tak bisa berhenti terlalu lama, maksimal hanya 30 menit.
Â
Setelah berfoto dan menikmati pemandangan luar biasa selama 20 menit, kami akhirnya kembali mempersiapkan menuruni pegunungan.Â
Â
Setelah menempuh empat jam perjalanan, akhirnya saya tiba di penginapan. Saya dengan empat rider tiba terlebih dahulu meski kami sempat mengambil jalan salah dan bertanya pada penduduk sekitar.
Â
Hari kedua
Â
Setelah menempuh perjalanan panjang menuju Himalaya, Senin 18 Juli saya harus mempersiapkan motor untuk melanjutkan perjalanan. Â Pukul 06.00 kami bangun.
Â
Tapi, tak lama seorang kru, Armita, mendatangi kami bertiga dan memberitahu bila kami tidak bisa riding hari ini. Saya, Angie, dan Nok harus menunda perjalanan gara-gara perizinan.
Â
Lalu saya diminta menyiapkan motor, membawa ke bengkel, dan mengisi bahan bakar.
Â
Hari ketiga
Â
Selasa 19 Juli 2016, kami siap berangkat pukul 07.00. Setelah semuanya siap, kami memacu Himalayan menuju Tsokar. Jaraknya 153 km.Â
Â
Perjalanan hari ini dihiasi dengan pemandangan berwujud perbukitan cokelat. Hanya sesekali kami berjumpa dengan padang rumput dan tanaman hijau.
Â
Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, jalan menuju Tsokar wajib melintasi beberapa wilayah militer yang dijaga ketat. Kami sempat ditahan untuk dimintai keterangan ke mana arah kami pergi.
Â
Penduduk lokal yang berada di sekitar kami mencoba membantu menjelaskan maksud dan tujuan kami. Setelah sekira 25 km melewati wilayah militer, kami berjumpa dengan sungai jernih yang setia menemani kami sejauh 40 km.
Â
Tak kalah menarik saat saya berjumpa dengan puluhan sapi yang sedang makan dan beristirahat di tepian jalan. Tak sedikit juga saya menemukan sapi sedang menyeberang dan membuat saya harus lebih ekstra hati-hati agar tidak menabrak mereka.
Halaman Selanjutnya
Â