- ANTARA/M N Kanwa/kye/16.
Begitu pun dengan Ketua DPP Gerindra Desmond J Mahesa. Pria berkepala plontos ini sepertinya masih menyimpan 'dendam' terhadap Ahok. Sikap Ahok yang meninggalkan partai mereka ketika duduk di kursi DKI Jakarta, menjadi dasar utama Gerindra untuk menolak Ahok kembali sebagai calon gubernur.
Nama Sandiaga Uno pun menjadi opsi Gerindra yang sudah mendapat restu dari Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. Namun, apakah Sandiaga menjadi pilihan utama atau sekadar mendampingi Risma yang juga muncul sebagai pilihan, Gerindra sepertinya masih merahasiakan soal ini. Sebab partai ini tak mencukupi kursi untuk mencalonkan calon sendiri.
Koalisi bersama partai lain pun menjadi pilihan wajib agar Gerindra bisa menjegal Ahok. "Kami kapok, orang yang kami besarkan, kami modalin, kok injak-injak kami. Masa kami mau diinjak dengan orang yang sama dua kali? Kami malu kalau kami dihina tiba-tiba kami calonkan lagi," kata Desmond.
Ya, apa pun unsur di balik koalisi ini. Harus diakui Risma memang boleh dibilang 'mampu' melawan Ahok dalam hal popularitas. Risma memang layak diusung melawan Ahok yang sudah mendapatkan tiga ‘perahu’ untuk berkompetisi yakni Partai Golkar, Nasdem dan Hanura.
Namun politik Ketua Komite Pemenangan Pemilu (KPP) DPP Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono menyebut partainya belum mengeluarkan keputusan resmi terkait Koalisi Kekeluargaan. Demokrat belum memutuskan mendukung siapa pun di Pilkada Jakarta.
"DPP masih mempelajari segala kemungkinan. Demokrat cuma menginginkan agar DKI Jakarta dipimpin sosok yang humble, profesional, amanah dan dicintai masyarakat dan komitmennya membangun menuju kemajuan," kata lelaki yang akrab disapa Ibas ini.
Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPD PDIP Gembong Warsono menyatakan bila partainya belum menetapkan apa pun soal Pilkada DKI Jakarta 2017. Munculnya nama Risma juga dianggap hanya sebatas kemungkinan, tergantung dengan situasi politik.
"Elektabilitas bukan satu-satunya alat untuk menentukan siapa yang akan diusung partai. Masih banyak variabel. Kepemimpinan menjadi hal penting," kata Gembong.
"Kami masih penuh dengan kalkulasi. Yang jelas sebagai partai pemenang pemilu dan pemilik kursi terbanyak di DPRD. kami punya kewajiban menghadirkan alternatif pemimpin yang layak untuk dipilih bagi masyarakat Jakarta," tambah petinggi DPP PDIP lainnya Arteria Dahlan.