- ANTARA/M N Kanwa/kye/16.
“Ibu (Megawati) itu orangnya sangat memberikan kesempatan kepada orang lain. Sebelum rekomendasi (penunjukan) itu turun, saya pasti akan dipanggil terlebih dahulu, dan diajak bicara. Jadi tidak mungkin langsung turun begitu saja,” kata Risma.
Sementara itu, pengamat politik dari Saiful Mujani Research and Consulting, Saidiman Ahmad, menilai saat ini PDIP memang dalam posisi gamang untuk menentukan keputusan atas siapa yang akan didudukkan di DKI Jakarta saat Pilkada. Langkah untuk mencari lawan tanding Ahok jelas bukan perkara mudah. Penerimaan warga Jakarta atas kepiawaian Ahok membenahi birokrasi dan sejumlah pembenahan fasilitas, menjadi nilai kuat yang harus dicarikan penawarnya.
"PDIP mengalami kegamangan dalam mencari figur calon gubernur di DKI. Belum terlihat bahwa PDIP solid mendukung satu calon, termasuk kader mereka sendiri seperti Risma," kata Saidiman.
Menurut Saidiman, nama Risma memang memiliki peluang untuk duduk di Jakarta. Hanya saja, dari riset mereka, peluang itu tetap kecil. Sulit bagi PDIP jika tetap memaksakan Risma ke Jakarta.
"Dari simulasi kami, Ahok masih sangat tangguh, siapa pun lawannya. Bila kondisi politik berada dalam kondisi normal sampai dengan 2017, saya kira kecil kemungkinan Ahok bisa dikalahkan," kata Saidiman.
Lantas mungkinkah Risma tetap ke Jakarta? Politik tetap politik, semua bisa berubah dalam sekejap. Bisa jadi banteng moncong putih kembali memasang Ahok. Bagaimanapun sejarah PDIP dengan Ahok tidak bisa dihapus begitu saja.
Dan mungkin saja isyarat ini sudah dilontarkan Risma lewat ketidakpeduliannya soal Pilkada DKI Jakarta. Risma sepertinya sudah memberi isyarat bahwa nama Risma memang bukan untuk di Jakarta, namun partainya akan mengusung yang dianggap paling berpeluang.
“Lihat mukaku, apa terlihat galau dan tertekan? Ndak sama sekali kan?” ujar Risma lalu tertawa. (aba)
Baca Juga