- ANTARA/Reno Esnir/kye/16.
"Tidak harus mendaftar, tapi bisa melalui hak prerogatif (ketua umum)," kata dia.
Ketua DPP PDIP Arteria Dahlan menegaskan, sebagai partai pemenang pemilu dan pemilik kursi terbanyak DPRD, kami punya kewajiban moral untuk menghadirkan alternatif pemimpin yang layak untuk dipilih bagi masyarakat DKI. Oleh karena itu, pemilihan calon dilakukan dengan penuh kehidmatan, kecermatan, dan kehati-hatian.
“Semua terukur dan transparan karena PDI Perjuangan sudah mengkhittahkan dirinya sebagai partai politik modern. PDI Perjuangan kan orientasinya selalu jelas dan terukur, untuk DKI bisa mendukung petahana—belum tentu Pak Ahok lho, karena wakil juga petahana— bisa mendukung terhadap mereka yang sudah mendaftar, terjaring dan tersaring yakni ada Bu Risma, Pak Yusril, Sandiaga Uno, Hasto Wardoyo, nah yang ketiga kan melalui hak prerogatif ketua umum,” ujar Arteria.
DPP PDIP memang tengah mematangkan pilihan dari tiga skenario yang telah mengerucut itu. Wasekjen PDIP Eriko Sotardugo mengatakan semua masih memungkinkan, skenario tersebut masih terbuka lebar.
“Ini kan masih ada 40 hari, dalam waktu 40 hari dinamika politik tinggi DKI ini kan menjadi ibu kota Indonesia, kita tidak bisa mengabaikan bahwa pusat pemerintahan ada di Jakarta," ujarnya.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal PDIP, Ahmad Basarah, menyebut Ahok dan Djarot sebenarnya akan dipasangkan untuk menjadi pilot project atau proyek percontohan kebangsaan PDIP. Namun, rencana itu berantakan akibat ulah Ahok.
"Momentum pertama, dia ultimatum Ibu Mega untuk berikan rekomendasi satu minggu untuk pasangan Djarot Ahok. Kalau tidak, dia (Ahok) ikut jalur independen," kata Basarah.
Menurutnya, tak mungkin seorang Ahok bisa mengintimidasi Mega. Apalagi PDIP tentu harus menjaga marwah partai. Karena itu, PDIP mengabaikan permintaan rekomendasi Ahok. Akhirnya Ahok pun menyatakan masuk jalur perseorangan.
Melalui sikap Ahok tersebut, sebenarnya skenario Ahok-Djarot telah digugurkan oleh Ahok. Sebab, Ahok yang membuat keputusan untuk tidak bersama PDIP dalam Pilkada 2017.
Sementara itu, Pengamat Politik dari Saiful Majani Research Center, Saidiman Ahmad, PDIP harus menghitung betul setiap pilihan politik mereka, terutama menyangkut Pilkada DKI Jakarta. Siapa yang akan diusung menjadi kandidat di Pilkada Jakarta akan jadi pertaruhan bagi partai besar seperti PDIP.