- ANTARA/Jessica Helena Wuysang
“Kawasan gambut yang sangat luas, ekosistemnya memang harus dijaga. Karena kalau tidak akan menimbulkan bencana, seperti kebakaran,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 7 September 2016.
Menurut Teten, kebakaran hutan di lahan gambut cukup besar. “Jadi perlu ada satu badan yang khusus mengurusi soal gambut ini. Dan dalam 5 tahun ada 2 juta hektare lahan gambut yang harus direstorasi,” ujarnya menambahkan.
Sesuai Inpres, BRG ditargetkan harus dapat melakukan rehabilitasi dan restorasi lahan gambut seluas 20 persen dari 2 juta hektare di 7 provinsi, atau sekitar 600 ribu hektare. “Sudah 17 tahun terus menerus kebakaran di lahan gambut nggak pernah bisa diatasi. Ini yang kita harapkan nanti bisa kita beresin.”
Nazir mengatakan, separuh dari lahan gambut yang ada sekarang sudah dalam keadaan dibuka dan berkanal. Ada yang hutannya sudah ditebang, ada yang sudah diolah menjadi kebun. Dan ada yang terbengkalai dan kering karena sudah banyak kanal.
Menurut dia, pada tahun 2015 lalu, dari total luasan lahan dan hutan yang terbakar, 40 persennya merupakan lahan gambut. Sementara, jika sudah terbakar, pemadamannya sangat sulit sekali, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. “Menunggu hujan dulu baru bisa membantu. Apalagi musim elnino kemarin. Kita hanya menunggu hujan karena susah sekali dipadamkan,” ujarnya menerangkan.
Berangkat dari kondisi itu, Presiden merasa perlu membentuk lembaga baru yang bertugas khusus merestorasi lahan gambut. “Jadi, ke depan tidak boleh lagi ada gambut terbakar. Karena kalau terbakar, memadamkannya setengah mati. Selain itu pemadamannya juga buang-buang uang negara,” ujarnya.
Masalahnya, saat ini sudah banyak lahan gambut yang terlanjur dibuka dan posisinya kering dan rawan terbakar. “Sekarang mau tidàk mau kita basahkan lagi gambutnya. Kenapa dibasahkan lagi, agar kalau di musim kemarau kondisinya sudah kembali lembab, dan kalau ada api meskipun terbakar tapi jalan apinya pelan sekali.”
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tak merasa terganggu dengan keberadaan BRG. Sebaliknya, kementerian yang dipimpin Siti Nurbaya tersebut justru merasa terbantu. “BRG ditargetkan dalam waktu lima tahun harus bisa merestorasi 2 juta hektare lahan gambut yang sudah rusak di tahun 2015 kemarin. Seperti melakukan upaya-upaya pembangunan sumur bor, pembasahan gambut, terus skat kanal,” ujar Kepala Biro Humas KLHK, Novrizal Tahar kepada VIVA.co.id, Selasa, 6 September 2016.