- ANTARA FOTO/Amirulloh
Hal itu, kata Dadang, telah dibuktikan dengan utuhnya Indonesia sejak berpuluh tahun lalu. Meski memiliki ratusan aliran dan kepercayaan, tidak ada geseken yang memang benar-benar dipicu karena masalah keagamaan.
"Agama sudah tidak masuk (masalah keberagaman). Tapi lebih ke personal. Keberagaman di Indonesia pecah oleh politik dan kepentingan. (Jadi) Kalau soal agama, di Indonesia itu sudah selesai," kata Dadang.
Atas itu, ia menekankan agar keberagaman itu dirawat. Sebab itu telah menjadi dasar berdirinya Indonesia sejak lampau. Tanpa itu, maka bukan tidak mungkin akan membuat kehancuran.
"Kita harus mau menerima apapun, karena Indonesia itu kan negeri yang berdasarkan perjanjian atau kesepakatan. Jadi apapun saat ini yang terjadi itu bagian dari kesepakatan bersama yang dijalin sejak jaman dulu," katanya.
Mari Berbuat
Lantas, bagaimana praktik menjaga keberagaman ini dilakukan? Secara prinsip seluruh elemen, suku dan agama apa pun di Indonesia ternyata sudah memainkan peran itu.
Maarif Institute misalnya, lembaga ini mengaku selalu konsen dengan program memelihara kebhinekaan. Merak kerap mengajak tokoh lintas agama, budayawan dan intelektual untuk menyerukan menjaga Indonesia. Tak cuma itu, lembaga ini juga kerap menjalankan program advokasi ke sekolah-sekolah terkait kebhinekaan.
Begitu juga yang diperbuat oleh organisasi Islam terbesar Indonesia Muhammadiyah. Selain kerap terlibat aktif dalam kebencanaan apa pun. Ormas ini juga membangun sejumlah sekolah yang bisa menampung seluruh umat beragama.
"Di Kupang kita ada IKIP Muhammadiayh. Di Sorong, Sangir Talaud, di tempat-tempat yang mayoritasnya buakn beragam Islam kita bangun sekolahan," kata Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad.
lalu, Lembaga SeJuK. Sebagai lembaga yang bergerang di bidang jurnalistik. Mereka rupanya juga memiliki cara tersendiri merawat keberagaman. Bentuknya berupa workshop, diskusi, seminar dan pelatihan kepda para jurnalis yang menitikberatkan pada isu toleransi.
Kemudian Konferensi Wali Gereja Indonesia. Lembaga ini juga telah ikut berbuat merawat keberagaman dan kebhinekaan. "Pancasila itu menjadi sebuah habitus kita, salah satu yang dibatinkan," kata Romo Benny.
Bentuk praktiknya pun bahkan dicerminkan dengan program Rosario Merah Putih yang intinya menanamkan kecintaan pada bangsa dan negara. "Setiap tahun ada rosario merah putih," katanya.