- Antara/ Rezza Estily
“Saya tegaskan bahwa PT DI bukan membuat atau menjual panci. Tapi, PT DI membuat alat pencetaknya dan itu pun nilainya mahal bisa ratusan juta rupiah,” Irlan menegaskan.
Kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal pada 2003 menambah buruk kondisi perusahaan. PHK ini berbuntut panjang. Kondisi ini diperparah dengan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang memailitkan PT DI pada 2007. Meski, pada tahun yang sama, Mahkamah Agung membatalkan putusan tersebut.
Bangkit dari Keterpurukan
Putusan MA yang membatalkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menjadi awal kebangkitan PTDI. “Dari situ mulai start kembali menuju perbaikan,” ujar Irlan.
Ia menjelaskan, pada 2012 dan 2014, PTDI mendapatkan tambahan modal dari pemerintah melalui Penyertaan Modal Negara (PMN), baik PMN noncash maupun PMN cash. PMN cash, PT DI dapat Rp1,4 triliun, kemudian dapat Rp400 miliar.
“Semua itu untuk memperbaiki dan menambah permodalan PT DI, khususnya untuk peningkatan fasilitas produksi dan sumber daya,” dia menambahkan.
PMN merupakan bagian dari program restrukturisasi dan revitalisasi PT DI. PMN tersebut kemudian digunakan untuk membeli mesin baru, merekrut SDM baru yang dimulai pada 2012. Menurut Irman, pembelian mesin untuk fasilitas produksi diperlukan agar kapasitas produksi lebih besar.
Program restrukturisasi dan revitalisasi PTDI tersebut kini mulai menuai hasil. Sebab, program itu tak hanya membuat PT DI mampu bertahan, namun juga bisa memproduksi dan mengekspor pesawat. "PT DI sekarang banyak ngirim (ekspor) pesawat ke luar. Pesanan dari Kementerian Pertahanan juga banyak,” ujar Irlan bangga.
Menurut dia, banyaknya pesanan dari dalam dan luar negeri membuktikan jika PT DI sudah kembali dipercaya. Saat ini, PT DI juga mengerjakan proyek dengan Airbus Group melalui Spirit Aerosystem.
Bahkan, PT DI menjadi single source untuk bagian sayap pesawat A320, A321 hingga yang terbesar A380. “Banyak pekerjaan komponen yang dibuat di PT DI saat ini,” dia menerangkan.
Produk-produk PTDI banyak yang diekspor ke sejumlah negara. Di antaranya Senegal, Venezuela, Uni Emirat Arab (UAE), Turki, Thailand, Brunei Darussalam, Pakistan, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, dan sejumlah negara lain.