Menelisik Dunia Telik Sandi

VIVA Militer: Pesawat tempur TNI melintas dengan formasi serang di Istana Negara
VIVA Militer: Pesawat tempur TNI melintas dengan formasi serang di Istana Negara
Sumber :
  • Istimewa/Viva Militer

VIVA.co.id – Kala itu, menjelang pergantian tahun dari 1978 ke 1979. Tercium kabar bahwa akan terjadi pergantian pesawat tempur milik TNI Angkatan Udara.

Hal ini sebenarnya wajar, mengingat usia pesawat tempur F-86 Sabre dan T-33 Thunderbird, keduanya buatan Amerika Serikat, makin menua. Pemerintah Indonesia dikejar waktu untuk segera mencari negara produsen yang bisa menjual pesawat dengan segera.

'Pertolongan' datang dari Amerika Serikat. Washington ternyata bisa menjual 16 unit pesawat tempur F-5 E/F Tiger II dengan diskon gede-gedean. Namun, 'bantuan' tersebut ternyata belum cukup untuk mengisi kekosongan skuadron tempur Indonesia.

Di saat itulah datang informasi dari negeri nun jauh di Timur Tengah, Israel. Mereka dikabarkan ingin melepas 32 unit pesawat tempur A4 Skyhawk. Badan Intelijen ABRI atau BIA (kini Badan Intelijen Strategis/BAIS TNI) langsung bergerak mengumpulkan dan menggali data informasi secara mendalam.

Terjalinlah kontak antara BIA dan Mossad, badan intelijen Israel. Alhasil, diputuskan Indonesia berminat membeli pesawat bekas yang juga buatan Paman Sam itu. Namun ada kendala. Indonesia dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik. Tetapi sisi lain, TNI-AU sangat membutuhkan pesawat tempur.

Kepala BIA kala itu, Mayjen TNI LB Moerdani, memutuskan pembelian armada pesawat tersebut dilakukan secara klandestin (rahasia). Inilah operasi rahasia terbesar yang dilakukan ABRI. (VIVA.co.id/Muhamad Solihin)

Mabes ABRI kemudian membentuk sebuah operasi bernama Operasi Alpha (Alpha Operation). Targetnya, membawa 'merpati' (inisial untuk A4 Skyhawk) hinggap di sarangnya (Indonesia), tanpa terendus publik.

Operasi Alpha dimulai dengan memberangkatkan para teknisi Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin. Setelah tujuh gelombang teknisi, kemudian berangkatlah rombongan terakhir yang terdiri dari 10 penerbang yang diseleksi ketat untuk belajar mengoperasikan A4 Skyhawk.

Salah satunya Marsekal Muda (Purn) Faustinus Djoko Poerwoko (almarhum). Saat itu ia baru berpangkat letnan satu. Pembekalan langsung dilakukan di Mabes TNI-AU. Djoko dan teman-teman hanya diberitahu bahwa mereka akan berangkat ke AS untuk belajar terbang selama empat bulan. Tidak lebih dari itu.

Dari Bandara Halim Perdanakusuma, kesepuluh penerbang lalu diterbangkan menggunakan Garuda Indonesia ke Bandara Paya Lebar, Singapura. Mereka lalu diinapkan di sebuah hotel. Saat makan malam, salah seorang perwira BIA meminta paspor mereka untuk diganti dengan Surat Perintah Laksana Paspor (SPLP).

Halaman Selanjutnya
img_title