- XCG Tech
Sedangkan di Indonesia, pada 2014 saja, ada sekitar 48,4 juta serangan cyber mengarah ke Indonesia. Sebanyak 12.088 situs kena hack dengan target terbanyak adalah 3.288 domain .go.id .
Di samping itu ada ancaman dari 12 juta malware yang mengintai, 1.730 kasus phishing dan 24.168 kasus pembobolan celah keamanan. Yang menarik, menurut data ID-SIRTII, Indonesia tidak hanya memiliki jumlah serangan cyber terbanyak namun juga menjadi negara penyerang terbesar di dunia.
Data Akamai menemukan ada 38 persen serangan siber yang dilancarkan oleh hacker Indonesia. Itu sebabnya hacker Indonesia menduduki posisi pertama dalam kategori negara penyerang, mengalahkan China dengan 33 persen serangan dan Amerika yang hanya 6,9 persen. Sayang, ID-SIRTII tidak memberikan laporan terbaru terkait hal ini.
Yang jelas, ini membuktikan bahwa banyak potensi hacker di Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi garda siber nasional. Namun, untuk hal ini, Pratama maupun Pengamat keamanan siber dari Indonesian Cyber Sosial Forum (ICSF), Ardi Soeteja, tidak setuju jika para kriminal siber itu langsung ditempatkan di posisi strategis perusahaan, menjaga ketentraman jaringan.
Pasalnya, banyak dari hacker-hacker ini yang bekerja sembunyi-sembunyi tanpa menunjukkan identitas mereka, bahkan cenderung belajar hack secara otodidak dan memiliki pendidikan minim. Oleh karena itu, jika memang hacker tersebut melakukan tindak kejahatan, mereka harus tetap harus dihukum sesuai UU yang berlaku.
Bukan tidak mungkin jika semua akan berlomba-lomba menjadi hacker, melakukan kerusakan ke semua sistem yang ada di negara ini karena menganggap, ketika melakukan hacking tidak akan ditangkap tapi direkrut oleh aparat pemerintah.
“Harus dilihat, hacker yang tidak dibina dari awal dengan hacker yang diambil di tengah jalan, itu harus berbeda diberikan pembinaannya, diuji loyalitasnya. Jangan sampai kita memberikan senjata kita kepada orang yang salah, bisa-bisa senjata makan tuan nanti,” ujar Ardi.
Namun pihak kepolisian, yang berencana merekrut Sultan Haikal saat bebas nanti, beralasan jika perekrutan itu adalah bentuk binaan agar keahilannya bisa diarahkan.
"Dia dibina, supaya tidak direbut organisasi kejahatan. Dia diarahkan ke jalan yang benar, supaya tidak jatuh ke Nigeria, Eropa Timur, atau Taiwan," jelasnya.