- VIVA.co.id/Gusti Gerdiasnyah
Kepala Bagian Humas BNN Kombes Pol Sulistriandri Atmoko, mengakui bila memang proses perlawanan terhadap penjahat narkoba tak mudah. Ia menyebut butuh sinergisitas semua pihak untuk perlawanan ini.
Sebab, dalam praktik, selama ini BNN selalu menjadi ujung tombak pemberantasan. Padahal, perlawanan terhadap narkotika adalah tanggung jawab bersama siapa pun.
Keterbatasan BNN yang hanya memiliki 4.700 personel se Indonesia dan anggaran yang begitu minim hanya Rp1,3 triliun per tahun membuat kerja BNN terasa begitu berat. "Negeri ini menyatakan perang narkoba, tapi seolah-olah di kementerian dan lembaga tidak merespons bahwa itu dalam keadaan darurat. Itu yang dirasakan BNN saat ini," kata Atmoko.
Maka ia berharap bahwa sinergisitas antar lembaga dan masyarakat harus juga menjadi senjata perlawanan terhadap narkoba. Sehingga tidak semata penanganan ini menjadi tanggung jawab BNN.
![]()
Sejumlah siswa SD Muhammadiyah 5 Surabaya mengikuti kegiatan Gebyar Hari Inspiratif Anti Narkoba di Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Entah itu dari segi pendidikan, program-program pencegahan soal narkoba dan lain sebagainya. Dengan demikian keterbatasan BNN selama ini dapat ditambal.
"Presiden sudah nyatakan perang, seyogyanya para pembantu juga mengambil peran. Kalau itu tidak dilakukan pencegahan tidak akan berjalan," kata Atmoko.
Dari sisi kepolisian, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Rikwanto, juga tak menampik jika memang upaya perlawanan terhadap narkoba di Indonesia memang cukup rumit.
Sebabnya, meski kini banyak penangkapan terhadap pelaku, fakta nyatanya menunjukkan bahwa peredaran narkotika juga masih marak. "Istilahnya ketangkap satu lolos empat. Itu realita lapangan," katanya.
Apalagi saat ini, kata dia, pengedar kini juga membuat banyak varian baru narkoba, dan itu tak peduli menyasar umur berapa pun. Jalur masuknya pun juga terus berkembang lebih pesat. Bahkan ada satu yang sudah dijaga, pelaku membuka jalur lain.
"Jadi harus sama-sama (menanganinya). Sama-sama mencari pelaku, pengedar kemudian mengungkap kasus yang sudah ada. Intinya kita harus sinergi," kata Rikwanto.
Ya, narkoba memang bak jamur di musim hujan. Ia selalu muncul dan ada sepanjang waktu. Dengan beragam bentuk dan modus. Upaya pemberantasan hingga memiskinkan para bandarnya memang patut dilakukan.