- ANTARA FOTO/Rahmad
VIVA.co.id – Hamparan kebun berwarna hijau kekuningan terlihat di balik bukit Tor Sihite. Pemandangan asri ini membuat lelah setelah mendaki bukit terjal tiga jam luntur. Inilah ladang ganja terbesar di Sumatera Utara.
Total penerbangan selama 4,5 jam dari Bandara Soekarno Hatta, menuju Bandara Kuala Namu, Medan, lalu menyambung ke Sibolga terasa panjang. Bukan hanya lelah karena flight pagi, tapi pengalaman pertama kali mengajuk turbulence menggunakan pesawat baling-baling membuat saya cukup khawatir.
Belum juga nafas panjang, ternyata perjalanan masih harus berlanjut. Sekarang saya harus naik mobil dari Sibolga menuju Mandailing Natal, atau yang akrab disapa Madina.
Sudah tidur, bangun, tidur, sampai bangun lagi, mobil belum juga sampai tujuan. Empat jam terasa sangat lama.
“Ini sudah jauh lebih mending, dulu jalannya mah masih berpasir,” ujar salah satu anggota Badan Narkotika Nasional (BNN), AKBP Sitompul, yang berada satu mobil dengan saya.
BNN memang tengah gencar-gencarnya menghentikan perkembangan ladang ganja di Sumatera Utara. Kontur tanah berbukit-bukit milik Madina kerap dijadikan tempat penanaman ganja oleh warga sekitar.
Madina sudah menjadi target BNN sejak awal 2000-an. Bahkan, ladang seluas 5 hektare pernah ditemukan yang berpotensi menghasilkan 1,5 ton ganja. Pada awal 2017, BNN pun kembali menemukan titik yang digunakan sebagai ladang ganja.
Udara dingin perbukitan langsung memeluk kami saat tiba di Madina. Apalagi ketika itu hujan turun untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir. Menimbulkan kekhawatiran cuaca bisa menjadi faktor penghalang misi kami.
Bukan apa-apa, perjalanan menuju titik lokasi harus melewati jalur yang cukup ekstrem dan terjal. Bahkan kabarnya jalan menuju desa terakhir sebelum pendakian mengalami longsor. Jadi jelas hujan bisa menjadi pengganjal.
Benar saja, perjalanan harus tertunda satu hari karena cuaca ekstrem yang mengguyur lokasi. “Tidak mungkin naik hari ini. Terlalu licin dan berbahaya,” seru suara di ujung walkie talkie yang dipegang oleh Sitompul, yang akrab kami sapa Opung Tompul.
“Ya sudahlah, kita santai dulu di sini,” ujar Opung.