Mencekau Narkoba dari Hutan ke Kota

Aparat Kepolisian Polres Aceh Utara mencabut batang tanaman ganja saat operasi ladang ganja di Desa Cot Rawa Tu, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Aceh, Rabu, 10 Mei 2017.
Aparat Kepolisian Polres Aceh Utara mencabut batang tanaman ganja saat operasi ladang ganja di Desa Cot Rawa Tu, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, Aceh, Rabu, 10 Mei 2017.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rahmad

VIVA.co.id – Hamparan kebun berwarna hijau kekuningan terlihat di balik bukit Tor Sihite. Pemandangan asri ini membuat lelah setelah mendaki bukit terjal tiga jam luntur. Inilah ladang ganja terbesar di Sumatera Utara.

Total penerbangan selama 4,5 jam dari Bandara Soekarno Hatta, menuju Bandara Kuala Namu, Medan, lalu menyambung ke Sibolga terasa panjang. Bukan hanya lelah karena flight pagi, tapi pengalaman pertama kali mengajuk turbulence menggunakan pesawat baling-baling membuat saya cukup khawatir.

Belum juga nafas panjang, ternyata perjalanan masih harus berlanjut. Sekarang saya harus naik mobil dari Sibolga menuju Mandailing Natal, atau yang akrab disapa Madina.

Sudah tidur, bangun, tidur, sampai bangun lagi, mobil belum juga sampai tujuan. Empat jam terasa sangat lama.

“Ini sudah jauh lebih mending, dulu jalannya mah masih berpasir,” ujar salah satu anggota Badan Narkotika Nasional (BNN), AKBP Sitompul, yang berada satu mobil dengan saya.

BNN memang tengah gencar-gencarnya menghentikan perkembangan ladang ganja di Sumatera Utara. Kontur tanah berbukit-bukit milik Madina kerap dijadikan tempat penanaman ganja oleh warga sekitar.

Madina sudah menjadi target BNN sejak awal 2000-an. Bahkan, ladang seluas 5 hektare pernah ditemukan yang berpotensi menghasilkan 1,5 ton ganja. Pada awal 2017, BNN pun kembali menemukan titik yang digunakan sebagai ladang ganja.

Udara dingin perbukitan langsung memeluk kami saat tiba di Madina. Apalagi ketika itu hujan turun untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir. Menimbulkan kekhawatiran cuaca bisa menjadi faktor penghalang misi kami.

Bukan apa-apa, perjalanan menuju titik lokasi harus melewati jalur yang cukup ekstrem dan terjal. Bahkan kabarnya jalan menuju desa terakhir sebelum pendakian mengalami longsor. Jadi jelas hujan bisa menjadi pengganjal.

Benar saja, perjalanan harus tertunda satu hari karena cuaca ekstrem yang mengguyur lokasi. “Tidak mungkin naik hari ini. Terlalu licin dan berbahaya,” seru suara di ujung walkie talkie yang dipegang oleh Sitompul, yang akrab kami sapa Opung Tompul.

“Ya sudahlah, kita santai dulu di sini,” ujar Opung.

Bagi pendatang baru, perbedaan pertama antara Sumatera Utara dan Jakarta jelas pada kendaraan Bentor yang merayap di berbagai sisi jalan. Mandailing Natal juga bukan kota besar.

Pusat kota Madina kira-kira hanya sepanjang tiga kilometer saja sebelum kembali memasuki daerah yang kiri kanannya diisi oleh sawah maupun perkebunan. Mobil kami pun akhirnya berhenti di sebuah hotel bertembok krem dan berdesain minimalis. Lumayan.

Di bawah hujan yang cukup deras, malam itu kami habiskan dengan ngobrol di pelataran hotel sambil mengecap kopi Arabica khas Mandailing. Pembicaraan kami bersama para anggota BNN ngalor ngidul.

Mulai dari pengembangan yang buntu selama nyaris dua bulan, hingga kesuksesan menggagalkan masuknya 1,4 juta butir ekstasi milik gembong narkoba Freddy Budiman pada 2012 silam.

Saya pun penasaran dan sempat bertanya soal seberapa besarnya bisnis narkoba di Indonesia. Sambil mengepulkan asap rokok mild yang dihisapnya, Opung Tompul pun mulai bercerita panjang lebar.

Menurutnya, saat ini Indonesia jadi target pasar terbesar kartel narkoba dunia. China disebut meraup Rp1,3 triliun hasil menjual narkoba ke Indonesia pada 2016.

“Mereka leluasa soalnya pakai perusahaan-perusahaan fiktif, dan sering ganti-ganti, di sana. Jadi susah ngelacaknya,” ujar Opung sambil geleng-geleng kepala.

Dalam upaya pemberantasan ganja, BNN sudah membuka diri pada perkembangan teknologi mutakhir demi membatasi berkembangnya ladang. Sejak 2016, kerjasama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sudah dilakukan.

Lapan akan memantau dengan citra satelit. Kerjasama ini diklaim bisa mendeteksi sejumlah populasi pembukaan ladang ganja baru yang memungkinkan untuk ditanami oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Salah satunya yang tertangkap citra satelit Lapan adalah ladang yang akan kami datangi.

Keesokan harinya, setelah memejamkan mata sejenak, perjalanan penuh tikungan selama tiga jam dari Madina ke titik lokasi menjadi “sarapan” buat kami di pagi hari.

Jalan berliku khas bukit barisan kami lewati. Warga langsung mencari sumber suara bising ketika sirine truk Brimob meraung memecah kesunyian desa-desa kaki bukit Sihite yang dilewatinya.

Untuk mencapai titik pendakian, 20 anggota operasi dari BNN, TNI, Brimob, dan Polres Madina harus melanjutkan perjalanan memasuki area pedesaan dengan mobil yang lebih kecil karena jarak jalan dengan rumah warga tak lebih dari satu meter.

Sempat muncul kekhawatiran saat tampak telah terjadi longsor di jalur menuju desa pendakian. Jalur tanah berwarna cokelat membelah hijaunya bukit dengan bongkahan kayu-kayu dengan diameter sebesar ban mobil terlihat masih berantakan di sana sini.

Halaman Selanjutnya
img_title