- REUTERS/Stringer
Dari situsnya terlihat jika pendanaan kebanyakan didapat dari donasi. Namun, akan ada rencana juga untuk membuat semacam Non Governmental Organization (NGO) berbayar dan penjualan merchandise Asgardia.
Bukan tidak mungkin jika situs tersebut kemudian akan menjadi ajang jual beli barang (e-commerce). Bahkan, dalam Term and Condition di situs tersebut, telah ada aturan tersendiri terkait "shopping".
Selanjutnya, Ambisi Semata?
Ambisi Semata?
Mendengar kisah Syafriza, memang tebersit pemikiran bahwa proyek ini hanya mimpi semata, Tepatnya, mimpi ambisius seorang ilmuwan, sekaligus pengusaha Rusia keturunan Azerbaijan, Igor Ashurbeyli.
Kebetulan sebagai pendiri, Igor dinobatkan juga menjadi pemimpin bangsa Asgardia. Di tangannya nanti, menurut penjelasan Syahriza, Asgardia akan menjadi negara monarki konstitusional tanpa partai politik. Di negara ini pula akan dianut paham sekuler, yang membebaskan warganya dalam hal beragama.
Igor merupakan ahlinya luar angkasa. Selain menjadi pemimpin redaksi di jurnal luar angkasa ROOM, dia pemegang saham Seraphim Capital, perusahaan pendanaan untuk teknologi berbasis luar angkasa.
Yang terpenting, dia adalah salah satu pendiri Aerospace International Research Center di Austria. Dengan seabrek pengalaman ini, tema luar angkasa sudah ‘khatam’ dia kuasai. Itulah mengapa, ia berani mendeklarasikan Asgardia pada 17 Juli 2017 (17717).
Kemustahilan proyek ini tidak hanya digaungkan oleh para ilmuwan di negara asalnya. Meski Syafriza mengatakan Asgardia ditargetkan terwujud satu abad lagi, ilmuwan luar angkasa di Indonesia pun pesimistis.
Misalnya saja Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, yang menganggap proyek itu sulit direalisasikan, jika dipandang dari aspek legal dan teknologi.
“Legalitas menurut hukum keantariksaan internasional hanya terkait dengan negara peluncur objek antariksa. Legalitas untuk koloni antariksa masih diperdebatkan. Asgardia masih mimpi," ujarnya.
Kendala terbesar mewujudkan koloni di antariksa adalah teknologi daya dukung kehidupan di antariksa, untuk jumlah manusia yang belum banyak ada. Warga yang akan tinggal di negara itu juga pasti dikenai biaya sangat mahal.
"Meskipun ada beberapa planet yang ditemukan secara teoretis bisa dihuni manusia, namun belum bisa dipastikan,” ujar profesor astronomi yang mengaku tidak tertarik untuk tinggal di luar angkasa itu.