- VIVA.co.id/ Diza Liane Sahputri
Kebingungan itu menuntun mereka untuk melakukan riset dan mendatangi sejumlah sutradara terkenal saat itu. Mulai dari Syumandjaja, Nawi Ismail, Dana Umbara, dan sejumlah sutradara lain.
Indro bercerita, selama proses konsultasi itu Warkop mencari tahu, seperti apa peran yang cocok untuk mereka bawa ke layar lebar. Sebab, selama ini mereka memang tak pernah mengambil segmen masyarakat menengah bawah.
Bagi Warkop, sebaiknya warga menengah bawah jangan dibikin pusing karena situasi politik sudah bikin pusing. Mereka perlu diajak selalu tertawa.
“Itu sebabnya ketika akhirnya menerima tawaran bermain film, kami sepakat menjadikan cerita dalam film itu sebagai sebuah autokritik juga semacam cara membangun moral. Kritik terhadap kami sendiri. Misalnya sindiran untuk tidak membuang sampah sembarangan,” beber pria berkepala plontos ini.
Setelah satu tahun mencari tahu dan memberanikan diri, pada 1979 film pertama mereka yang berjudul Mana Tahaaannn... dirilis. Di film itu, Warkop Prambors bermain bersama Elvy Sukaesih, Rahayu Effendi, dan Kusno Sudjarwadi.
Setelah membintangi film pertama, giilran Nanu perlahan mundur. Tanggal 22 Maret 1983, Nanu yang sakit ginjal meninggal dunia di usia yang sangat muda, 30 tahun. Akhirnya Warkop Prambors hanya tersisa tiga personel, yaitu Kasino, Dono, dan Indro.
Belakangan, sekitar tahun 1990-an, karena tak lagi menjadi pengisi acara di Radio Prambors, nama Warkop Prambors diubah menjadi Warkop DKI. Akronim dari nama mereka bertiga.
Sejak itu hingga tahun 1994, kelompok lawak ini terus membintangi film yang khusus menjadikan mereka bertiga sebagai tokoh sentral. Sepanjang kurun waktu antara 1979 hingga 1994, Warkop DKI membintangi 34 film.
Kadang dalam setahun dua film diproduksi. Bahkan tahun 1992, ada tiga film yang diproduksi. Saat televisi swasta bermunculan, mereka juga sempat membintangi sinetron komedi.
Kehadiran Warkop DKI di layar kaca mulai berkurang ketika Kasino sakit. Ia menderita kanker otak. Aktivitas tiga sahabat ini mulai berkurang. Hingga akhirnya Kasino meninggal dunia pada 16 Desember 1997 di Jakarta.
Empat tahun kemudian, kepergian Kasino disusul oleh Dono. Sakit tumor dan kanker paru-paru yang mendera Dono membuatnya tak mampu bertahan. 30 Desember 2001, pelawak kawakan itu menghembuskan napas terakhir.