- ANTARA FOTO/David Muharmansyah
Menurut Pratama, maraknya hoaks membuktikan jika Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) tak mampu menangkal hoaks dan ujaran kebencian. Buktinya masih saja ada kejahatan yang berujung pada pencemaran nama baik orang lain. Hal ini karena masih ‘lembek’ dan tumpulnya penegakan hukum dan implementasi UU ITE bagi penjahat siber.
“Ketika orang berpikir melakukan kejahatan di dunia maya itu bukan merupakan pelanggaran hukum yang berat, akhirnya orang akan merasa santai berbuat negatif di dunia maya, paling nanti dibebaskan. Lihat Ahmad Dhani. Awalnya mau polisikan haters. Tahunya damai, atas nama pencitraan. Lalu ada Haikal, curi uang miliaran malah mau direkrut polisi. 130 pengguna internet, 10 persennya saja yang enggak peduli, apa nggak penuh konten internet ini dengan hal negatif. Ini harus dipikirkan,” ujarnya menambahkan.
Kementerian Informasi dan Informatika mengakui, jika hoaks dan ujaran kebencian belum bisa ditekan secara signifikan. "Kita mengapresiasi bahwa polisi sudah bisa mengungkap salah satu kelompok pelaku industri ujaran kebencian. Kenapa saya katakan industri? Karena memang sudah mulai masif, yang pasti saat ini ditengarai karena motif ekonomi. Kelompok ini, dalam melakukan motifnya, mereka tidak peduli terhadap dampaknya yang bisa menghancurkan keutuhan bangsa, yang bisa mengadu domba di antara komponen bangsa," ujar Dirjen Aptika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan.
Pria yang akrab disapa Semmy ini menjelaskan, total laporan masyarakat yang masuk di website aduan Kominfo dari bulan Januari sampai Juli 2017 yaitu 32.465, sebagian besar sudah ditindak lanjuti. Khusus untuk konten SARA, ujaran kebencian dan hoaks, pada bulan Januari ada 10.212. Lalu ada penurunan di bulan Februari, jumlahnya 2.308. Di Maret turun lagi, hanya ada 6.702 tapi Mei dan Juni naik lagi.
"Mei itu mencapai 1.600-an. Kalau kita lihat laporan masyarakat yang begitu antusias, berarti masyarakat sudah jenuh dan muak, mereka ingin berpartisipasi memberantas konten hoaks di internet.”
Selanjutnya, cara mencegah hoaks..
Literasi dan Blockchain
Meski tak semua angka itu berasal dari kerja Saracen, namun Semmy menganggap jumlah itu sudah cukup mewakili Kominfo untuk bisa melakukan langkah guna memberantas saracen-saracen yang lain.