- ANTARA FOTO/David Muharmansyah
Menurut Kerr, sekitar 75 persen trafik sebuah kampanye promosi tidak bisa dilacak karena berasal dari dark social account. Padahal angka itu berpotensi untuk bisa dimonetisasi, baik karena dibagikan maupun menghasilkan klik. Untuk share, 12 persen trafik share berasal dari Facebook dan hanya 4 persen dari Twitter. Sisanya, 77 persen tidak bisa dipantau alias dark social account. Sedangkan konten yang diklik dari Facebook hanya 16 persen dan 4 persen dari Twitter. 75 Persen adalah dark social. Platform paling banyak penyumbang dark social account adalah WhatsApp sekitar 81 persen, BBM 67 persen, Line 57 persen dan Facebook Messenger sekitar 27 persen.
Kerr juga membocorkan adanya teknologi yang bisa digunakan di masa depan untuk bisa menghalau hoaks di dunia maya. Namanya teknologi Blockchain yang kerap digunakan untuk memantau transaksi bitcoin.
CEO of Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan mengatakan, di blockchain, setiap orang dapat menjadi bagian dari server. Dari setiap server tersebut saling interkoneksi dan memiliki database yang saling mereplikasi. Kemudian, user menjadi bagian dari jaringan protokol tersebut dengan memiliki satu akun yang terdiri dari sepasang public key - private key. Public key terdata di blockchain dan private key menjadi bukti kepemilikan account tersebut.
Setiap transaksi atau data akan berjalan antar kedua public key dengan otorisasi dari private key si pengirim dan terekam ke dalam jaringan blockchain, sehingga setiap pemilik server akan memiliki datanya dan tidak bisa dihapus oleh siapapun. Dengan ini, transaksi menjadi tidak bisa dipalsukan, hanya pemilik akun yang bisa menandatangani dan transparan.
“Perwujudan blockchain luas, selain perbankan atau finansial teknologi, bisa juga di kesehatan, logistik, maupun sertifikasi. Kalau berhubungan dengan menangkal berita hoaks, ya, secara konseptual sebenarnya memungkinkan tapi mungkin pengaplikasiannya akan cukup kompleks.
Menurut Oscar, salah satu kelebihan blockchain adalah memungkinkan beberapa lembaga saling berkerjasama tanpa salah satu menjadi pemilik tunggal atau pengontrol data. Dengan begitu, apabila setiap perusahaan media terhubung dalam satu jaringan protokol blockchain yang sama dan user, saat meninggalkan komentar maupun menerbitkan artikel, akan ditandatangani oleh private key, maka setiap konten yang diterbitkan akan dapat diverifikasi siapa yang bertanggung jawab atas konten tersebut sehingga tidak bisa dibantah yang bersangkutan, dan tidak bisa dihapus.