- ANTARA FOTO/David Muharmansyah
"Nanti kalau polisi sudah selesai, untuk menangkal hoaks, ada dua hal yang kita lakukan. Pertama, kita melakukan literasi di masyarakat. Kedua, kita melakukan penapisan. Apa aja sih yang kita lakukan penapisan? Salah satunya konten bersifat radikal, hoaks yang meresahkan masyarakat dan juga merusak ketertiban umum. Satu lagi, konten terorisme, ujaran-ujaran kebencian yang mengadu domba, itu kita lakukan penapisan di sisi hulu," katanya.
Bagi Pratama, salah satu cara untuk bisa mencegah Saracen lainnya muncul adalah dengan mengedukasi pengguna internet (literasi digital). Apalagi tidak adanya pendidikan khusus di Indonesia untuk mengajarkan warga bagaimana berperilaku di dunia maya. Padahal, pendidikan teknologi informasi yang pernah diterapkan dulu sudah dianggap cukup memberikan pendidikan tersebut. Sayangnya, Mendiknas mencabutnya dan tak lagi diimplementasikan di sekolah. Selain itu, sudah saatnya pemerintah menggunakan produk lokal. Misalnya mulai membangun aplikasi lokal untuk bisa menjadi alternatif aplikasi luar.
Kerr mengusulkan hal yang sama, literasi digital, agar selalu mengecek kebenaran berita, tidak asal memforward berita yang tidak jelas. Apalagi yang beredar di Facebook dan platform pesan instan.
Tidak dipungkiri jika media sosial merupakan lahan yang cukup berpotensi besar untuk menggiring opini publik. Saracen pun menggunakan media sosial seperti Facebook dan pesan instant untuk bisa memviralkan konten hoaks buatan mereka. Facebook dan pesan instan memang platform favorit yang digunakan oleh para pegiat content marketing. Facebook dianggap memiliki semua alat promosi yang dibutuhkan untuk membuat sebuah produk terkenal. Di Facebook ada ‘pasar’ yang bisa diraih, punya data analitik, dan tentunya ada respons real time yang diberikan oleh pengguna.
“Facebook memang punya segalanya yang dibutuhkan oleh seorang pemasar/pengiklan. Sedangkan platform pesan instan punya sistem yang tidak bisa dilacak. Bagi dunia marketing ada yang namanya dark social account dan itu ada di hampir semua pesan instan. Meski mampu memberikan trafik yang cukup besar untuk kampanye promosi tapi kita tidak bisa melacaknya,” ujar Kerr.
![]()
Aplikasi pesan Whatsapp menjadi platform penyumbang sebaran ujaran kebencian. (U-Report)