- ANTARA FOTO/David Muharmansyah
Selanjutnya, sisi gelap content marketing..
Sisi Gelap Content Marketing
Baik Jonru, Sri Rahayu maupun Jasriadi boleh saja membantah dirinya terlibat dalam bisnis pembuatan konten hoaks. Namun sejatinya buzzer semacam Sri Rahayu dan Jasriadi, maupun Jonru marak dan dipercaya mampu menghasilkan banyak uang. Ini terjadi sejak media sosial mulai dipercaya sebagai jalur promosi yang efisien dan mengena ketimbang iklan banner. Dunia menyebutnya sebagai bagian dari content marketing (pemasaran konten).
“Iya, tidak dipungkiri itu (bisnis fakenews) memang bagian dari bisnis content marketing. Itu merupakan sisi gelapnya. Semua hal di dunia ini punya dua sisi, kadang hal yang baik bisa juga digunakan untuk sesuatu yang buruk. Tapi sesuatu yang ilegal harusnya dianggap sebagai ilegal. Content marketing itu segalanya tentang mengubah pandangan kita, mengubah kebiasaan, bermain dengan psikologi seseorang. Jika kita terpengaruh pada sebuah pesan dari konten tersebut, maka diharapkan kita akan berubah,” ujar ahli digital marketing, John Kerr kepada VIVA.co.id.
Menurut dia, di Indonesia, rata-rata orang sangat terbuka dan menerima konten apa saja. Bahkan terkadang mereka memperkuat konten tersebut dengan apa yang sudah mereka yakini. “Jadi tidak selamanya salah konten tapi justru karena terkadang kita ingin mempercayai konten itu. Terkadang, berita hoaks dianggap bukan hoaks bagi sebagian orang,” ujarnya menambahkan.
Pria yang menjabat sebagai Global Chief Digital Officer, Managing Director of Asia-Pacific Zeno Group, yang merupakan salah satu agensi PR terbesar di dunia itu, mengaku pernah berupaya untuk masuk ke dalam sebuah komunitas untuk mengklarifikasi berita hoaks. Namun ia gagal. Pasalnya, komunitas itu tetap kukuh mempercayai berita hoaks tersebut.
Ia mengatakan, hal ini menjadi bukti jika hoaks digunakan oleh banyak orang untuk bisa mendukung pemikiran atau kepercayaan mereka yang sebenarnya tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Sayangnya, Kerr tidak memberikan data valuasi bisnis hoaks di Indonesia maupun dunia.
Sebagai pegiat media sosial, Jonru mengakui jika dirinya pernah dibayar sekitar Rp2 juta untuk satu status di medsos, baik untuk akun Facebooknya yang berjumlah 1,4 juta followers maupun Twitter-nya yang berjumlah 90 ribu followers. Untuk jaringan produsen hoaks besar seperti Saracen, pihak Kepolisian menyebut satu proposal kampanye bisa bernilai ratusan juta. Sekitar Rp15 juta untuk sang ketua, dan 15 buzzer dibayar satu juta masing-masing untuk satu kampanye. Belum lagi pembuatan website dan lainnya.