SOROT 465

Terjerat Candu Hallyu

Konser SMTown Live World Tour III in Jakarta
Sumber :
  • VIVAnews/ Muhamad Solihin

"Jadi budaya-budaya liberal mereka itu semua mengusung capitalism, patrialism, itu semua dampaknya yaa hedonisme. Jadi orang itu hubbud (cinta) dunia, makanya orang akan lebih cendrung pragmatisme dan itu tidak salah juga sebenarnya. Salahnya dimana? Salahnya karena kita tidak membuat keseimbangan," katanya.

img_title Spoiler Drama Korea Doctor X: Kim Ji Won Hadapi Situasi yang Mengancam Nyawa Saat Masa Lalunya Mulai Terungkap

Fenomena pertarungan budaya memang diniliainya wajar saja. Eddie menegaskan, jika salah satu di antara pertarungan budaya itu ada yang kalah, berarti dia tidak kompetitif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selanjutnya, Mengglobalkan Budaya Lokal.

img_title Bikin Melongo! 1,16 Ton Ketamine di Belawan Bernilai Rp3,48 Triliun

Mengglobalkan Budaya Lokal

Gempuran budaya asing, termasuk Korea, yang masuk ke Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku industri kreatif dan pemerintah. Strategi Korea dalam mengemas dan memasarkan budaya popnya dalam bentuk seni, mini seri, film, dan lain sebagainya hingga membuat orang ketagihan seharusnya bisa jadi kaca perbandingan bagi Indonesia.

img_title Spoiler Drama Korea Happy Anding: Kang Hoon, Cho Hyun Chul dan Kim Jung Jin Berjuang Jadi Komedian Setelah 10 Tahun

Lebih dari itu, keberpihakan para pemangku kepentingan, seperti pelaku usaha dan pemerintah atas industri kreatif lokal juga sangat diperlukan. Menurut Eddie, menjadi ironi ketika pengusaha televisi dan media seperti menganaktirikan berita-berita budaya lokal dibanding budaya pop.

"Di televisi coba lihat, semua isinya hiburan, kesenian-kesenian yang murni justru dianggap lebih pusing. Pemerintah dalam hal ini harus mendukung para pegiat seni, industri perfilman dengan kebijakan-kebijakannya tentunya ya, dan juga yang terpenting adalah implementasinya di lapangan," ujarnya.

Fungsi kontrol dari pemerintah pun diharap bisa terus dilakukan. Badan independen yang mengawasi penyaluran dana untuk menambah infrastruktur penopang budaya-budaya lokal juga penting dalam hal ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melanjuti peran pemerintah dalam menghadapi gempuran Hallyu, Daisy juga menjelaskan bahwa apresiasi, dukungan pada industri kreatif juga harus bisa mendorong hadirnya pilihan alternatif yang berkualitas, baik itu musik, film, atau apa pun, untuk masyarakat atau penikmat budaya di Indonesia.

"Dengan begitu masyarakat juga kan memiliki alternatif, jadi tidak seperti konsumen yang lemah tanpa mempunyai pilihan. Kalau konsumen itu kan sebenarnya cerdas, kalau ada pilihan tentu dia akan memilih, tapi kalau tidak ada pilihan, mau gimana? Yaudah, mau tidak mau masyarakat kita memilih K-Wave ini," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut