SOROT 465

Terjerat Candu Hallyu

Konser SMTown Live World Tour III in Jakarta
Sumber :
  • VIVAnews/ Muhamad Solihin

"Dalam pertemuan dua budaya selalu ada dua arus. Arus pertama itu mengikut, tapi biasanya ketika aliran pengikutnya sudah besar, pasti ada arus counter culture. Jadi kalau saya percaya, sekuat-kuatnya suatu budaya yang masuk, biasanya akan ada gerakan pula dari budaya-budaya yang meng-counter atau yang melakukan perlawanan, karena budaya-budaya tandingannnya itu pasti muncul, walaupun dia mungkin jadi minoritas. Pastinya, memang budaya utama kita ikut terpengaruh juga terhadap kerasnya arus budaya Korea," tutur Daisy lagi.

img_title Rosan Berharap Danantara Housing Expo 2026 Bisa Perluas Akses Masyarakat untuk Punya Rumah

Budayawan sekaligus pegiat seni perfilman, Eddie Karsito, menjelaskan, tidak ada yang salah dengan budaya apa pun di era global seperti sekarang ini, termasuk budaya Korea. Yang terpenting, budaya tersebut masih positif, sejalan, dan selaras dengan budaya Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Itu kan konteksnya budaya, jadi jangan juga salah memahami terminologi budaya. Budaya itu kan tidak sebatas kesenian, tapi secara terminologi budaya, itu segala daya upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup itu disebut budaya. Nah, sebenarnya kita kan sudah dikasihkan warning, ketika ada perjanjian pasar bebas (Asean Free Trade Area / AFTA), kita kan sudah sering kali diingatkan bahwa bangsa Indonesia ini seyogyanya dapat meningkatkan kompetensinya di semua aspek, karena di era perdagangan bebas itu eranya persaingan bebas, jadi kalau kita tidak siap untuk itu, maka kita dilindas," ujar Eddie kepada VIVA.co.id.

img_title 10 Drama Korea Romance Sekolah Terbaik, dari Cinta Pertama hingga Kisah Time Travel

Namun tak dimungkiri, dampak negatif dari produk budaya Korea ini juga ada. Menurut Daisy, salah satunya adalah adiktif atau kecanduan.

"Sisi negatifnya tentu saja salah satu faktornya ada adiktif atau comodity fetishism. Artinya ada gejala orang tidak berfikiran secara rasional menyukai produk itu sampai tergila-gila tanpa alasan. Terus kemudian muncul juga realitas semu. Realitas semu itu jadi dia sudah tidak bisa membedakan lagi antara dunia real-nya dengan dunia film, K-Pop, atau K-Wavenya ini. Itu sebenarnya yang harus dihindari," terangnya.

img_title Usai Kerusuhan di Senayan, Polisi Pastikan Aktivitas Warga Tetap Jalan dan Minta Tak Terprovokasi

Sementara itu, budayawan Eddie menambahkan, tidak ada dampak spesifik terkait masuknya budaya Korea ini, karena sebenarnya sama saja kasusnya dengan budaya asing yang lain.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut