SOROT 468

Peritel Dunia Dihantam Badai

Suasana toko Polo Ralph Lauren di Fifith Avenue, New York, sebelum ditutup.
Sumber :
  • REUTERS

"Banyak orang masih suka melihat dan menyentuh secara fisik," ungkapnya.  

img_title Beras Fortifikasi Dipastikan Tak Menggeser Beras Premium, Mendag Budi: Pangsa Pasarnya Beda!

Selanjutnya, Kisah Singapura

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kisah Singapura

img_title Penjualan EV Moncer dan Pelaku Ritel Masih Optimis, Airlangga Bantah Ekonomi RI Tengah Lesu

Penyakit yang diderita peritel di AS itu juga sudah terjadi di negara tetangga. Di Singapura, misalnya. Kawasan belanja di Orchard Road juga tak seramai biasanya. Gejala ini sudah terjadi sekitar satu tahun lalu.

Menurut kantor berita Reuters, akibat pengunjung yang sangat sedikit, kasir toko justru sibuk bermain games di ponsel mereka. Sementara itu, beberapa asisten toko memanfaatkan koridor sepi di pusat perbelanjaan sebagai arena mini golf. 13 dari 16 unit yang berada di lantai lima sebuah pusat perbelanjaan di kawasan itu juga kekurangan penyewa.

img_title Menko Airlangga Minta Pengusaha Ritel Modern Bantu Kopdes Merah Putih Permudah Akses Barang Non-Subsidi

Bangunan kosong yang disewakan untuk berjualan pun sepi peminat. Misalnya, di daerah pinggiran kota di sisi barat dari Singapura, lebih dari dua per tiga pusat perbelanjaan bawah tanah yang telah dibuka selama hampir dua tahun tetap kosong.

Reputasi Singapura sebagai "surga belanja", di mana investor menggelontorkan dana sebesar US$7.25 miliar dalam lima tahun terakhir, mengalami pukulan perekonomian, karena melemahnya perekonomian lokal dan penurunan belanja turis.

Penurunan turis di Singapura, terjadi karena banyak faktor. China, salah satu negara penyumbang turis ke Singapura, beberapa waktu lalu mengalami perlambatan ekonomi. Negara tirai bambu itu juga telah membangun banyak pusat perbelanjaan mewah, bahkan mendirikan 'surga bebas pajak' di sebuah spot wisata lokal.

Pembeli memilih baju di toko Li Ning yang ada di China

Pembeli memilih baju di toko Li Ning yang ada di China. (REUTERS/Jason Lee)

China melakukan itu untuk mengangkat konsumsi dan memacu pariwisata domestik. Kondisi itu dinilai berhasil, karena akhirnya banyak warga China yang memilih belanja di negaranya sendiri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, Indonesia, Thailand, dan Malaysia memiliki beberapa produk lokal terbaik dengan versi yang lebih terjangkau. Misalnya saja, sebuah tas mewah yang dibuat oleh Coach, harganya bisa lebih murah dibandingkan di Singapura.

Di Bangkok dan Jakarta, ruang ritel telah meningkat 20-25 persen dalam lima tahun. Data tersebut, merujuk data  dari perusahaan real estate CBRE, diindikasikan dengan berkurangnya ruang kosong.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut