- REUTERS
Penyebab kedua adalah terlalu banyaknya mal di AS, tumbuh dua kali lebih cepat dari populasi antara tahun 1970 dan 2015. Menurut analis riset Cowen and Company, saat ini ada sekitar 1.200 mal di AS, dalam satu dekade, jumlahnya naik 900 mal.
Menurut perusahaan riset realestat Chusman dan Wakefield, ruangan belanja per kapita di AS 40 persen lebih banyak dibanding Kanada. Kemudian, liba kali lebih besar dibanding Inggris dan 10 kali lebih banyak dari Jerman.
Jadi tidak heran bahwa rontoknya ritel di negara itu sangat terasa. Apalagi, riset itu juga mengungkapkan bahwa kunjungan masyarakat AS ke mal turun 50 persen antara 2010 sampai 2013. Dan terus jatuh setiap tahunnya sejak saat itu.
Kemudian yang ketiga adalah pergeseran pola pengeluaran konsumen di AS dari belanja barang ke belanja makanan atau berlibur. Hal itu terlihat dari turunnya belanja konsumen untuk pakaian hingga 20 persen selama satu abad terakhir.
Meningkatnya pengeluaran warga AS untuk liburan terlihat dari meningkatnya statistik hunian hotel, dan intensitas perjalanan maskapai di negara tersebut. Selain itu, pengaruh media solial juga besar mendorong pertumbuhan belanja perjalanan warga AS.
Dengan melakukan perjalanan atau liburan, anak muda di AS bisa membuat konten yang menarik di media sosial mereka dan mendapat kepuasan karena dilihat seluruh dunia. Hal itu lebih dipilih ketimbang meluangkan waktunya ke mal untuk belanja barang.
Sementara itu, sejak 2005 tercatat penjualan di restoran tumbuh dua kali lipat ketimbang belanja ritel lainnya. Bahkan pada 2016, untuk pertama kalinya tercatat bahwa orang AS lebih banyak menghabisakan uangnya di restoran dan bar dibanding belanja di toko kelontong.
CEO Ace Hardware, John Venhuizen menegaskan, peritel sebenarnya bisa terlepas dari jeratan permasalahan ini. Kuncinya adalah berinovasi dan meningkatkan layanannya.
Menurutnya ada tiga hal utama yang bisa melindungi pangsa pasar yang dimilikinya dari raksasa e-Commerce. Yaitu fokus pada apa yang mereka jual, peningkatan layanan khususnya online dan lokasi toko yang strategis.Â
Upaya tersebut terbukti, penjualan online Ace pada kuartal ke II 2017 tumbuh 61 persen, dan 93 persen produk dari transaksi tersebut diambil dari toko yang dimiliki.