- REUTERS
Menurunnya animo belanja dan sepinya turis ini bukan sebuah permasalahan kecil untuk Singapura. Sebab, pedagang grosir dan eceran menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) negara itu. Apalagi, ekonomi global yang lesu telah memperlambat dan mengurangi belanja Singapura, terutama para pekerja di sektor ekspor.
Dilansir dari Strait Times, pemerintah Singapura pun putar otak, mencari cara agar merosotnya penjualan ritel di kawasan tersebut bisa teratasi. Salah satu rencana yang muncul adalah dengan melarang mobil melintas Orchard Road  dan membiarkan ritel-ritel berdagang di area tersebut. Mungkin mirip dengan konsep Car Free Day di Jakarta.
Masalahnya bukan jalan, tapi toko-toko yang berada di daerah tersebut terlalu banyak. Hal itu diperburuk dengan serupanya barang-barang yang dijual.
Sementara itu, gempuran belanja online juga menghantam raksasa ritel di negara itu. Apalagi berdasarkan statistik publik separuh dari penduduk Singapura berbelanja secara online.
Keluhan yang paling sering disampaikan konsumen di negara singa itu adalah barang yang dijual secara online di situs produk atau market place, lebih lengkap dibanding apa yang dijual pada pusat perbelanjaan. Hal tersebut semakin membuat mal-mal di negara-kota itu sepi pengunjung. (ren)