SOROT 468

Peritel Dunia Dihantam Badai

Suasana toko Polo Ralph Lauren di Fifith Avenue, New York, sebelum ditutup.
Sumber :
  • REUTERS

pembukaan gerai H&M

img_title Investasi Syariah Mulai Rp1 Juta, Sukuk ST016 Resmi Hadir di BRI

Suasana pembukaan gerai H&M di Jakarta beberapa waktu lalu. (VIVA.co.id/Rizky Sekar Afrisia)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ralph Lauren tidak sendiri. NYT mencatat, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah merek terkenal di Fifth Avenue itu telah tutup maupun pindah tempat. Menurut firma Cushman & Wakefield, mereka adalah Kenneth Cole, Juicy Couture, dan H&M.

img_title Raksasa Ritel Kembali Efisiensi, 1.000 Karyawan Terdampak

"Menurut saya, merek-mereka itu kini lebih terfokus untuk mempromosikan produk untuk jangka waktu tertentu dan menjadi realistis dengan apa yang mereka butuhkan, termasuk pada ukuran toko," kata Robert Burke, konsultan produk-produk mewah yang pernah menjadi eksekutif di Ralph Lauren pada tahun 1990an. "Anda masih bisa membentuk pencitraan merek tanpa harus punya toko yang besar," lanjut dia. 

Selanjutnya, Mewabah

img_title Negara Tetangga RI Kena Gelombang PHK Massal, Sektor Manufaktur dan Ritel Paling Terdampak

Mewabah

Kisah Ralph Lauren di New York itu menunjukkan bahwa fenomena sepinya pusat perbelanjaan yang belakangan ini terjadi di Indonesia sejatinya bukanlah hal yang baru. Masalah ini seolah sudah mewabah sejak beberapa tahun lalu di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.

Dilansir dari Business Insider, Jumat 29 September 2017, pada pertengahan tahun ini Credit Suisse merilis, diproyeksikan sebanyak 8.600 toko ritel akan ditutup pada tahun ini. Angka itu akan terus bertambah hingga akhir tahun.

"Penutupan toko telah meningkat. Bahkan menimpa toko-toko yang ada di level tier satu (Ritel besar)," tulis kajian tersebut.

Di AS, selain Ralph Lauren, ritel yang masuk ke level tier satu seperti Macy,s JCPenney dan Sears masuk dalam daftar perusahaan yang menutup toko-tokonya. Bersama dengan ritel lainnya seperti Payless, Rue21, Michael Kors, dan Babe.

"Ini adalah spiral kematian," tegas Profesor Pusat Kajian Realestat di Universitas Connecticut's, John M Clapp. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kejadian ini tidak bisa dianggap remeh. Bagaikan penyakit, sepinya pusat perbelanjaan besar bisa menular dan berdampak negatif pada kegiatan ekonomi di sekitarnya. Karena, warung atau salon dan toko-toko kecil di sekitar mal itu, sangat bergantung dari ramainya lalu lintas konsumen yang datang ke mal besar itu.

Credit Suisse juga memproyeksikan sebanyak  20-25 persen, atau sekitar 220 sampai 275 pusat perbelanjaan di AS akan ditutup dalam lima tahun ke depan. Tanda-tanda akan terjadinya proyeksi itu sudah tercermin dengan apa yang terjadi pada tahun ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut