- ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Maklum, kebijakan itulah yang akan merenggut lima orang pekerja tol di setiap gardunya. "Saya kira sudah bisa dipastikan akan ada PHK (pemutusan hubungan kerja)," kata Mirah.
Mirah tak menampik jika memang ada alternatif tawaran dari BPJT soal nasib para pekerja tol yang terancam 'terbuang'. Tawaran itu berupa pengalihan profesi mereka ke sektor pekerjaan lain di BPJT.
Namun demikian, bagi Mirah, itu bak peluru hampa. Apa yang dilontarkan BPJT tak mampu menjawab masalah pelik di balik dampak lima detik yang telah dipangkas.
Posisi pekerjaan baru yang tersedia, kata Mirah, konon cuma 200 saja. Jumlah ini sangat tak masuk akal dibanding ribuan pekerja yang terancam menganggur.
![]()
Petugas Jasa Marga membantu pengendara melakukan transaksi nontunai menggunakan e-toll di Gerbang Tol Citeureup 2, Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Tak cuma itu peliknya lagi, posisi pekerjaan yang akan dibuka itu belum tentu akan mudah didapat. Sebabnya, BPJT harus menyeleksi ulang para pekerjanya lantaran kualifikasi yang ditawarkan sudah tak seragam dengan pekerjaan yang dilakoni para pekerja tol sebelumnya.
"Bayangkan, kami yang sudah bekerja tahunan di gerbang tol, kami akan dialihkerjakan di tiga sektor lain, yaitu di rest area, potong rumput, dan ngurusin jembatan penyeberangan. Ini kan tidak masuk akal."
Atas itu, Mirah berkeyakinan pasti ada PHK, dan celakanya lagi hingga kini belum ada arah pembicaraan yang menuju ke isu soal pesangon. Jika pun ada, maka itu tak lebih sebagai kompensasi belaka yang cuma menjadi masalah baru bagi pekerja setelah tak lagi bekerja kedepannya.
"Ini bukan nominal pesangon! Para pekerja itu membutuhkan kepastian untuk mendapatkan kebutuhan dengan layak dan berkesinambungan," sergah Mirah.
Simpang Siur
Apa yang diteriakkan Mirah mungkin saja benar. Peniadaan petugas di gardu tol harus diakui tak terbantahkan. Namun demikian, muncul kejanggalan di balik jumlah pekerja yang terancam.
Jika sebelumnya Mirah di bawah bendera ASPEK menyebut ada 20 ribu pekerja tol yang akan terbuang. Namun jumlah ini tak sinkron dengan jumlah pekerja yang disebut Jasa Marga. "Total pegawai Jasa Marga 9.900 karyawan," ujar Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani.