Alat dan SDM Pemantau Gempa Sudah Bagus

Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Sumber :

Bagaimana pemantauannya?
Sebenarnya gunung ini kan kita monitor dengan baik. Kita menempatkan beberapa peralatan di sana. Tadi saya sampaikan ada peralatan seismik di sana untuk mengetahui detak jantung di sana. Di GTP itu ada empat seismik dan kami juga ada pos pemantauan di sana. Ada petugas kita, ada yang khusus mengamati aktivitas GTP di sana. Kami harapkan masyarakat agar tetap tenang mengikuti informasi yang berasal dari PVMBG atau Badan Geologi, jangan dari yang lain. Kemarin setelah erupsi di Jumat itu, juga sempat beredar hoaks. Makanya kami juga menginformasikan update terbaru kondisi kawah seperti apa, karena kita memantau terus itu melalui visualnya. 

Apakah sebelumnya sempat diprediksi, erupsi ini akan terjadi?
Sebenarnya begini, memang sudah ada peningkatan aktivitas sejak bulan Juni 2019 lalu. Peningkatan itu ditunjukkan dengan adanya  gempa-gempa hembusan. Gempa-gempa hembusan itu, yang biasanya tidak seberapa kemudian meningkat sampai sekitar 400an pada sehari sebelum erupsi. Juga ada peningkatan bentuk agak menggelembung sedikit ya pada permukaan kawah kemarin itu. Dan informasi itu kita evaluasi juga.

Apakah hasil evaluasi dan pemantauan disampaikan?
Evaluasi terakhir pada tanggal 24 Juli. Dan hasil analisa dan evaluasi kita itu kami kirimkan kepada semua stakeholder terkait. Pertama BNPB sebagai koordinator kebencanaan di Indonesia, kemudian juga pemerintah daerah setempat, baik provinsi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Subang, dan juga tembusan instansi terkait lainnya. Kami sampaikan bahwa ada potensi terjadinya erupsi freatik, cuma kapannya kan tidak tahu. Makannya surat itu kami kirimkan agar kemudian untuk dilakukan antisipasi apabila erupsi itu terjadi. 

Memang erupsi ini jangkauannya tidak sebesar erupsi magmatik. Kalau erupsi magmatik kan dia bisa besar, dan indikasinya kelihatan sekali. Tapi kalau erupsi freatik ini tidak terlalu kelihatan, tapi ada gitu kan. Makanya kami sampaikan ada potensi erupsi freatik yang bisa terjadi tiba-tiba seperti kemarin itu, namun sudah kami informasikan kepada stakeholder terkait yaitu tiga hari sebelumnya.

Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Jawa Barat

Selain Tangkuban Perahu, bagaimana kondisi gunung Merapi yang ada di Indonesia lainnya?
Seperti kita ketahui, Indonesia ini memiliki gunung yang paling banyak di dunia. Ada 127 gunung yang aktif. 69 di antaranya kami sebut sebagai gunung api tipe A, yaitu tipe yang paling aktif di antara yang lainnya. Nah, ke-69 gunung ini semuanya kita pantau secara intensif. Semuanya kita pantau, kita punya pos minimal satu pos di setiap gunung itu. Total kita punya 74 pos untuk memantau 69 gunung tipe A itu. 

Apa saja dan siapa saja yang ada di pos-pos itu?
Di setiap pos itu kita ada pengamat atau peneliti. Ada juga alat-alat kita yang kita gunakan untuk memantau aktivitas di 69 gunung berapi itu. Tergantung bagaimana kondisi gunungnya tentu. Ada yang sangat lengkap, ada juga yang biasa-biasa saja.

Jadi dari 69 gunung ini, memang rata-rata dalam satu tahun itu ada sekitar 20-an yang di atas normal. Gunung-gunung yang di atas normal ini adalah gunung-gunung yang berada di level 2, level 3, sampai level 4, tapi saat ini gunung yang di level 4 enggak ada. Level 2 itu artinya waspada, level 3 itu artinya siaga. Untuk level 3 itu ada sekitar 20 gunung, termasuk di antaranya Sinabung dan Gunung Agung. Untuk yang di level 2, ada Krakatau, Kerinci di Jambi, kemudian kalau di Jawa itu ada Gunung Bromo, Gunung Merapi, kemudian Gunung Semeru. 

Mana lagi yang berstatus waspada?
Di Lombok ada Gunung Rinjani, ke bagian Timur lagi ada Gunung Sangiang Api. Kalau di Maluku ada Gunung Karangetang itu juga level 3. Kemudian di Sulawesi Utara ada Gunung Soputan itu juga level 3. Gunung yang berada di level 2 itu cukup banyak, sekitar 18 gunung. Dan gunung-gunung yang berada di level 2 dan level 3, potensi erupsi itu ada, dan bahkan ada yang sudah erupsi, cuma skala ancamannya saja yang beda-beda. 

Bagaimana membedakannya?
Kalau ancamannya masih berada di sekitar puncak tidak terlalu jauh, ada yang sekitar 1-2 kilometer, artinya tidak mengganggu permukiman, hanya mengganggu atau berdampak pada jika ada yang mendaki. Kalau level 3 itu sudah lebih jauh lagi dampaknya atau potensi ancamannya. Jadi gunung-gunung kita memang seperti itu.

Jadi tidak usah khawatir, potensi erupsi itu selalu ada, bahkan beberapa sudah ada yang erupsi. Dan yang paling penting ancamannya sudah kita mitigasi, sudah kita prediksikan. Kalau terjadi sesuatu atau erupsi, jarak aman masing-masing gunung berbeda-beda. Misalnya Gunung Merapi. Sekarang berada di level 2, sekarang itu erupsi, terus dia pembentukan kubah lava, kemudian longsor menjadi gempuran lava pijar, kemudian awan panas. Tapi kan jaraknya sudah kita antisipasi. 

Dari modeling yang kami sudah buat itu, jaraknya maksimal 3 km untuk Merapi. Itu batas maksimal kami. Di tiga kilometer itu masyarakat sudah tidak boleh memasuki kawasan. Tapi kondisi sekarang, daerah terdampak erupsi Merapi hanya sampai dua kilometer. Di luar itu masyarakat masih bisa beraktivitas seperti biasa. Turis-turis juga kalau mau datang silakan, tidak ada masalah. Tapi yang penting jangan sampai melewati batas yang sudah kita tentukan.