Pasang Surut Jualan Mobil
- VIVA/Purna Karyanto
MPV atau SUV kans sebenarnya bukan pembagian kelas customer. Kalau berdasarkan kelas, kesannya ada yang lebih baik, padahal ini hanya kebutuhannya saja. Di MPV maupun SUV, produk kami ada yang levelnya entry sampai premium.
Memang benar kalau dibilang SUV makin berkembang dibandingkan segmen lain, karena memang orang senang desainnya lebih sporty, kemudian seven seater sekarang ada juga di SUV, high ground clearance untuk bikin konsumen tenang juga ada di situ. Akhirnya trennya memang semakin tinggi.
Â
Tetapi market di Indonesia memang masih MPV, masih 40 persen, SUV growing jadi sekitar 20 persen. Naik kelas sebenarnya enggak juga, pembeli Innova misalnya, ada yang pindah ke Fortuner ada yang naiknya ke Voxy. Lalu Toyota Rush, ada yang naiknya ke Fortuner ada yang justru pindah ke Innvova.
Menyebut merek Toyota di Indonesia, hampir semua orang kenal. Apapun yang dijual itu pasti laku, dan orang mau beli. Di balik semua itu, ada enggak rasa sulit saat menjual mobil?
Dengan nama Toyota, jualan mobil pasti laku menurut saya enggak begitu lah anggapanya. Begini, Toyota itu bisa seperti sekarang karena history yang panjang. kami selalu membawa produk-produk yang dibutuhkan masyarakat. Mulai dari Kijang, Avanza, dan LCGC, banyak lah, model seven seater-nya juga.
Brand itu penting, tetapi kalau produk yang dibawa enggak sesuai dengan kunci keberhasilan kita, enggak sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan market, pasti enggak akan bisa sukses jualannya. Kunci keberhasilannya adalah berusaha mengerti kebutuhan pelanggan di Indonesia. Kalau itu bisa terus dipegang, saya yakin kami bisa menjual mobil dengan baik.
Semua produsen otomotif, termasuk Toyota selalu melihat kebutuhan pelanggan. Apa kira-kira yang dibutuhkan dua sampai tiga tahun ke depan?
Kalau dua sampai tiga tahun terlalu short, perubahan itu bertahap-bertahap dan enggak terasa. Pertama, scustomer kami inginnya style yang lebih sporty and advance, ini dibuktikan dengan melihat di jalanan memang ke arah sana bentuk dan desainnya.
Kedua, masyarakat itu inginnya jangan dipusingkan setelah mereka membeli kendaraan itu. Semua ingin, kalau servis gampang, terus sparepartnya gampang. Lalu yang lainnya adalah resale value, ingin kendaraannya yang desainnya bagus tetapi unsur utama reliability dan durability enggak boleh hilang.