Andi Mallarangeng

You Make Me A Better Man: Teori Baru Perkawinan

Andi Mallarangeng
Sumber :
the marital decline camp.     
img_title Kasus Perzinaan, Inara Rusli Bakal Menang? Kuasa Hukum Sebut Bukti CCTV yang Diambil dari Hasil Kejahatan Tidak Sah

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


img_title Duel Penentu di ACL 2, Persib Bandung Bidik Puncak Grup
Pandangan lain adalah pandangan dari the marital resilience camp
img_title Jika Eisenkot Gantikan Netanyahu, Ini Dampaknya bagi Masa Depan Palestina
. Angka perceraian yang tinggi, menurut pandangan ini, memang tidak diingkari, tetapi ia tidak otomatis buruk. Perceraian hanyalah sebuah akibat dari tumbuhnya semangat otonomi individual, khususnya di kalangan kaum perempuan. Adalah hal yang lebih negatif, menurut pandangan ini, jika perkawinan terus dipertahankan dengan memaksakan kaum perempuan untuk menerima nasib begitu saja, termasuk menerima kenyataan pahit dari perkawinan yang kering dan tidak lagi diikat oleh cinta dan suasana saling menghargai. Bukankah berpisah secara baik-baik jauh lebih sehat ketimbang bertahan dalam ikatan yang saling menyakiti perasaan masing-masing?

Teori baru Prof. Finkel ingin menjembatani kedua pandangan yang bertentangan tersebut. Baginya, kedua pandangan di atas bisa benar dan bisa salah secara bersamaan. Nasib lembaga perkawinan dalam kecenderungan masyarakat post-modern sekarang adalah “lebih baik” dan sekaligus “lebih buruk.”

Maksudnya apa? Prof. Finkel mengakui bahwa secara umum pasangan yang berusaha bertahan saat ini menemui lebih banyak dilema dan kesulitan. Karena itulah angka perceraian cenderung meninggi dan keluarga yang berantakan sudah menjadi gejala umum. Tapi bagi mereka yang sanggup melewatinya, terbentang potensi kebahagiaan yang secara kualitatif jauh lebih baik dan lebih substansial dari sebelumnya. Yang gagal semakin terkapar, sementara yang berhasil semakin bahagia dan menemukan pemenuhan diri yang hakiki.

Bagi Prof. Finkel, kesenjangan antara keduanya, yaitu mereka yang menderita dan mereka yang berbahagia, kini semakin menganga. Itulah ciri khas lembaga perkawinan saat ini. All-or-nothing marriage: kalau gagal, perkawinan terpuruk dalam jurang yang dalam; sebaliknya, kalau berhasil, ia akan menjadi sumber pengembangan dua sejoli, beserta anak-anak mereka, dalam suasana yang saling mengisi, penuh cinta, kemesraan, dan kepuasan pribadi.

Tapi apa yang menyebabkan satu pasangan terpuruk dan yang satu lagi beruntung melanggengkan perkawinan? Apa rahasia di baliknya? Di sinilah teori Maslow mulai relevan. Untuk menjelaskannya, Prof. Finkel menggunakan jalan yang agak sedikit melingkar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Mengikuti tipologi yang telah dirumuskan sebelumnya oleh sosiolog Andrew Cherlin dan sejarawan Stephanie Coontz, Prof. Finkel menjelaskan tiga tahap perkembangan lembaga perkawinan yang telah terjadi di Amerika Serikat. Model perkawinan tahap pertama adalah
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut