Sumber :
” (1979). Masih banyak lagi film dengan genre yang sama, tetapi dasar ceritanya hampir serupa: perlawanan cinta kaum muda terhadap otoritas orang tua, dan hampir semuanya berakhir dengan
happy ending
. Keluarga mengalah, cinta berjaya.
Setelah itu, walau terjadi belakangan ketimbang transformasi di AS, perubahan yang sama terjadi juga di Indonesia. Urbanisasi, tumbuhnya kelas menengah dan kaum profesional muda, kaum perempuan yang lebih terdidik dan mulai meniti karir di luar rumah, serta, sejak akhir dekade 1990, reformasi dan tumbuhnya kebebasan serta tuntutan persamaan di depan hukum. Seperti penjelasan Prof. Finkel tadi, semua perubahan ini tentu membawa dampak terhadap lembaga perkawinan.
Buat Indonesia, mungkin salah satu persoalan yang unik adalah dekatnya perimpitan antara model yang satu dengan yang lainnya. Di Negeri Paman Sam, perubahan lembaga perkawinan berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, sementara di Indonesia perubahan tersebut terjadi agak berdekatan, dalam skala historis.
Akibatnya, dengan mudah kita temukan berbagai dilema yang berbaur dalam persoalan yang dialami oleh keluarga muda dan kalangan muda di masyarakat kita: kadang persoalan tersebut berhubungan dengan problematika aktualisasi diri sebagaimana yang menjadi ciri persoalan model perkawinan ketiga, tetapi terkadang pula urusannya lebih menyangkut dengan keluarga pasangan, dengan mertua, adik atau kakak kandung serta saudara lainnya dari keluarga besar (extended family) di sekitar mereka, suatu persoalan yang masih berada para lingkup model pertama yang berakar pada kultur agraris. Kalau menggunakan teori Maslow, susunan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam masyarakat kita tidak sepenuhnya berderet dan bertingkat secara rapih, tetapi kadang menumpuk, bahkan mungkin pula terbolak-balik.
Jadi dalam hal tertentu beban bagi keluarga muda dan kaum muda kita sebenarnya lebih rumit dan bercabang ketimbang counterpart mereka di negara maju seperti AS. Tapi apapun persoalannya, tentu kita semua berharap bahwa keluarga muda dan kaum muda Indonesia dapat mengarungi perjalanan kehidupan dengan baik, tabah, dan tak mudah patah dalam upaya merebut sukses masa depan, baik dalam karir maupun dalam kehidupan cinta serta keluarga.
Baca Juga
Setelah itu, walau terjadi belakangan ketimbang transformasi di AS, perubahan yang sama terjadi juga di Indonesia. Urbanisasi, tumbuhnya kelas menengah dan kaum profesional muda, kaum perempuan yang lebih terdidik dan mulai meniti karir di luar rumah, serta, sejak akhir dekade 1990, reformasi dan tumbuhnya kebebasan serta tuntutan persamaan di depan hukum. Seperti penjelasan Prof. Finkel tadi, semua perubahan ini tentu membawa dampak terhadap lembaga perkawinan.
Buat Indonesia, mungkin salah satu persoalan yang unik adalah dekatnya perimpitan antara model yang satu dengan yang lainnya. Di Negeri Paman Sam, perubahan lembaga perkawinan berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang, sementara di Indonesia perubahan tersebut terjadi agak berdekatan, dalam skala historis.
Akibatnya, dengan mudah kita temukan berbagai dilema yang berbaur dalam persoalan yang dialami oleh keluarga muda dan kalangan muda di masyarakat kita: kadang persoalan tersebut berhubungan dengan problematika aktualisasi diri sebagaimana yang menjadi ciri persoalan model perkawinan ketiga, tetapi terkadang pula urusannya lebih menyangkut dengan keluarga pasangan, dengan mertua, adik atau kakak kandung serta saudara lainnya dari keluarga besar (extended family) di sekitar mereka, suatu persoalan yang masih berada para lingkup model pertama yang berakar pada kultur agraris. Kalau menggunakan teori Maslow, susunan kebutuhan yang harus dipenuhi dalam masyarakat kita tidak sepenuhnya berderet dan bertingkat secara rapih, tetapi kadang menumpuk, bahkan mungkin pula terbolak-balik.
Jadi dalam hal tertentu beban bagi keluarga muda dan kaum muda kita sebenarnya lebih rumit dan bercabang ketimbang counterpart mereka di negara maju seperti AS. Tapi apapun persoalannya, tentu kita semua berharap bahwa keluarga muda dan kaum muda Indonesia dapat mengarungi perjalanan kehidupan dengan baik, tabah, dan tak mudah patah dalam upaya merebut sukses masa depan, baik dalam karir maupun dalam kehidupan cinta serta keluarga.
Halaman Selanjutnya