Andi Mallarangeng

You Make Me A Better Man: Teori Baru Perkawinan

Andi Mallarangeng
Sumber :

img_title Danantara Indonesia Tegaskan Tidak Ada Dana Sponsorship dalam Partisipasi TIME100 Next 2026

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagaimana cara mencapainya? Adakah resep jitu untuk sukses dalam model perkawinan tipe terakhir ini? Dalam menjawab pertanyaan ini, Prof. Finkel tidak memberi formula yang aneh-aneh.
img_title Prediksi Dewa United Vs Persija Jakarta: Ujian Berat Macan Kemayoran Pertahankan Puncak Klasemen


img_title Bukan Gegara Penggerebekan Narkoba, Ini Pemicu Sebenarnya Penembakan dan Penikaman 3 Orang di Kampung Ambon
Teorinya memang baru, tetapi pada akhirnya kita harus kembali pada kearifan lama: spend more time with your spouse. Luangkan lebih banyak waktu bersama pasangan anda. Berusahalah mengerti satu sama lain. Tumbuh bersama, berkembang bersama, dalam suasana yang saling menghargai. Cinta bukanlah sebuah kata benda, tetapi sebuah kata kerja: kita harus terus belajar dan melakukan hal positif untuk semakin terlibat di dalamnya.

Itulah barangkali pelajaran paling berharga yang dapat dipetik oleh keluarga muda dan kaum muda kita yang akan memutuskan untuk mengikatkan diri dalam bahtera perkawinan. Prof. Finkel memang meneliti dan menulis tentang perkawinan di Amerika Serikat. Tetapi bukankah cinta dan perkawinan mengandung unsur-unsur yang universal? Lagi pula, tidak ada ruginya untuk belajar dari negeri lain, bukan?

Bagaimana Indonesia?

Kalau memang kita ingin membandingkan uraian Prof. Finkel dengan situasi dan model perkawinan di Indonesia, mungkin beberapa hal dapat dikatakan. Model pertama tadi, yaitu institutional marriage, dalam masyarakat kita lebih banyak dipengaruhi oleh adat dan pilihan orang tua, persis seperti dalam novel “Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai” karya Marah Rusli (1922). Sebuah ungkapan Jawa, yaitu bibit, bebet, bobot, juga bisa dianggap sebagai kredo yang menandai semangat zaman itu, khususnya dalam pilihan dan penentuan pasangan hidup. Model semacam ini berlangsung cukup lama, dan mungkin masih terasa sisanya sampai sekarang, terutama di daerah yang masih sarat dengan kultur agraris.

Konvergensi dengan dua model berikutnya sebagaimana yang terjadi di AS mungkin bermula pada dekade 1970, di mana pengaruh film dan counter-culture dari AS semakin merasuk dalam kebudayaan pop Indonesia. Sejumlah film pencarian cinta dan kehidupan anak muda adalah beberapa tonggaknya, seperti “Pengantin Remaja” (1971) yang diperankan oleh Sophan Sophian (Romy) dan Widyawati (Julie). Berturut-turut film lainnya adalah “Ali Topan Anak Jalanan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

” (1977) dan “Gita Cinta dari SMA
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut