Sumber :
Baca Juga
Bagaimana cara mencapainya? Adakah resep jitu untuk sukses dalam model perkawinan tipe terakhir ini? Dalam menjawab pertanyaan ini, Prof. Finkel tidak memberi formula yang aneh-aneh.
Baca Juga
Baca Juga
Itulah barangkali pelajaran paling berharga yang dapat dipetik oleh keluarga muda dan kaum muda kita yang akan memutuskan untuk mengikatkan diri dalam bahtera perkawinan. Prof. Finkel memang meneliti dan menulis tentang perkawinan di Amerika Serikat. Tetapi bukankah cinta dan perkawinan mengandung unsur-unsur yang universal? Lagi pula, tidak ada ruginya untuk belajar dari negeri lain, bukan?
Bagaimana Indonesia?
Kalau memang kita ingin membandingkan uraian Prof. Finkel dengan situasi dan model perkawinan di Indonesia, mungkin beberapa hal dapat dikatakan. Model pertama tadi, yaitu institutional marriage, dalam masyarakat kita lebih banyak dipengaruhi oleh adat dan pilihan orang tua, persis seperti dalam novel “Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai” karya Marah Rusli (1922). Sebuah ungkapan Jawa, yaitu bibit, bebet, bobot, juga bisa dianggap sebagai kredo yang menandai semangat zaman itu, khususnya dalam pilihan dan penentuan pasangan hidup. Model semacam ini berlangsung cukup lama, dan mungkin masih terasa sisanya sampai sekarang, terutama di daerah yang masih sarat dengan kultur agraris.
Konvergensi dengan dua model berikutnya sebagaimana yang terjadi di AS mungkin bermula pada dekade 1970, di mana pengaruh film dan counter-culture dari AS semakin merasuk dalam kebudayaan pop Indonesia. Sejumlah film pencarian cinta dan kehidupan anak muda adalah beberapa tonggaknya, seperti “Pengantin Remaja” (1971) yang diperankan oleh Sophan Sophian (Romy) dan Widyawati (Julie). Berturut-turut film lainnya adalah “Ali Topan Anak Jalanan ” (1977) dan “Gita Cinta dari SMA
Halaman Selanjutnya
” (1979). Masih banyak lagi film dengan genre yang sama, tetapi dasar ceritanya hampir serupa: perlawanan cinta kaum muda terhadap otoritas orang tua, dan hampir semuanya berakhir dengan