Andi Mallarangeng

You Make Me A Better Man: Teori Baru Perkawinan

Andi Mallarangeng
Sumber :
institutional marriage
img_title Ruben Onsu Pasrah Kalah Gugatan Hak Asuh Hingga Siap Cabut Gugatan Asal dengan Syarat Ini
yang menjadi ciri khas di abad ke-19. Saat itu, AS masih merupakan masyarakat pertanian. Perkawinan lebih banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar, yaitu kecukupan pangan, papan, reproduksi, dan keamanan. Cinta dan kasih sayang tentu saja merupakan faktor penting, tetapi ia lebih dianggap sebagai bonus perkawinan, bukan tujuan utamanya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


img_title Baterai untuk Mobil Listrik dan Pusat Data Bakal Diproduksi di Indonesia

Tahap berikutnya adalah model
img_title Lengkapi Fitur Keselamatan bagi Penumpang, Aplikator Ojol Berlomba Pacu Inovasi Teknologi
companionate marriage di abad ke-20. Perkembangan ini terjadi saat masyarakat AS sudah berubah menjadi masyarakat industri. Kaum pria berubah, dari kaum petani menjadi kaum pekerja, sementara kaum perempuan mulai meniti karir di luar rumah. Kebutuhan material dan persamaan hak telah tercapai, sebuah ciri masyarakat yang oleh ekonom John Kenneth Galbraith disebut sebagai the affluent society. Dengan perkembangan baru ini, tidak heran jika tujuan perkawinan juga turut berubah. Perkawinan bukan lagi melulu soal social security dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi lebih dianggap sebagai lembaga perpaduan cinta, pemenuhan kebutuhan romantika seksual, serta pencarian companionship.

Evolusi berikutnya yang terus menguat sampai sekarang adalah model self-expressive marriage. Model ini kira-kira mulai berkembang sejak pertengahan dekade 1960, seiring dengan semangat counter-culture yang merebak saat itu, khususnya di kalangan kaum muda. Tujuan dan motivasi perkawinan mengalami perubahan: ia lebih dipandang sebagai pilihan pribadi untuk mencapai pemenuhan diri, personal fulfillment.

“You make me a better man.” Itulah ungkapan yang dikatakan oleh Jack Nicholson kepada pasangan mainnya, Helen Hunt, dalam film Hollywood “As Good As It Gets” (1997), karya sutradara James Brooks. Bagi Prof. Finkel, di balik ungkapan itulah terkandung esensi dari model perkawinan baru ini. Perkawinan bukan sekadar cinta, seks, dan pembentukan keluarga. Ia adalah sebuah eksplorasi untuk menjadi diri-yang-lebih-baik, lebih aktual, lebih bergairah. Untuk lebih memperjelasnya, Prof. Finkel juga menyitir ucapan sosiolog kenamaan, Robert N. Bellah, bahwa “love has become, in good part, the mutual exploration of infinitely rich, complex and exciting selves.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Walaupun Prof. Finkel tidak menyinggungnya, mungkin bisa ditambahkan bahwa salah satu contoh terbaik dari model terakhir ini bisa ditemukan pada memoar perjalanan dan pencarian kehidupan yang menjadi
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut