Sumber :
institutional marriage
yang menjadi ciri khas di abad ke-19. Saat itu, AS masih merupakan masyarakat pertanian. Perkawinan lebih banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang paling dasar, yaitu kecukupan pangan, papan, reproduksi, dan keamanan. Cinta dan kasih sayang tentu saja merupakan faktor penting, tetapi ia lebih dianggap sebagai bonus perkawinan, bukan tujuan utamanya.
Tahap berikutnya adalah model companionate marriage di abad ke-20. Perkembangan ini terjadi saat masyarakat AS sudah berubah menjadi masyarakat industri. Kaum pria berubah, dari kaum petani menjadi kaum pekerja, sementara kaum perempuan mulai meniti karir di luar rumah. Kebutuhan material dan persamaan hak telah tercapai, sebuah ciri masyarakat yang oleh ekonom John Kenneth Galbraith disebut sebagai the affluent society. Dengan perkembangan baru ini, tidak heran jika tujuan perkawinan juga turut berubah. Perkawinan bukan lagi melulu soal social security dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi lebih dianggap sebagai lembaga perpaduan cinta, pemenuhan kebutuhan romantika seksual, serta pencarian companionship.
Evolusi berikutnya yang terus menguat sampai sekarang adalah model self-expressive marriage. Model ini kira-kira mulai berkembang sejak pertengahan dekade 1960, seiring dengan semangat counter-culture yang merebak saat itu, khususnya di kalangan kaum muda. Tujuan dan motivasi perkawinan mengalami perubahan: ia lebih dipandang sebagai pilihan pribadi untuk mencapai pemenuhan diri, personal fulfillment.
“You make me a better man.” Itulah ungkapan yang dikatakan oleh Jack Nicholson kepada pasangan mainnya, Helen Hunt, dalam film Hollywood “As Good As It Gets” (1997), karya sutradara James Brooks. Bagi Prof. Finkel, di balik ungkapan itulah terkandung esensi dari model perkawinan baru ini. Perkawinan bukan sekadar cinta, seks, dan pembentukan keluarga. Ia adalah sebuah eksplorasi untuk menjadi diri-yang-lebih-baik, lebih aktual, lebih bergairah. Untuk lebih memperjelasnya, Prof. Finkel juga menyitir ucapan sosiolog kenamaan, Robert N. Bellah, bahwa “love has become, in good part, the mutual exploration of infinitely rich, complex and exciting selves.”
Walaupun Prof. Finkel tidak menyinggungnya, mungkin bisa ditambahkan bahwa salah satu contoh terbaik dari model terakhir ini bisa ditemukan pada memoar perjalanan dan pencarian kehidupan yang menjadi
Tahap berikutnya adalah model companionate marriage di abad ke-20. Perkembangan ini terjadi saat masyarakat AS sudah berubah menjadi masyarakat industri. Kaum pria berubah, dari kaum petani menjadi kaum pekerja, sementara kaum perempuan mulai meniti karir di luar rumah. Kebutuhan material dan persamaan hak telah tercapai, sebuah ciri masyarakat yang oleh ekonom John Kenneth Galbraith disebut sebagai the affluent society. Dengan perkembangan baru ini, tidak heran jika tujuan perkawinan juga turut berubah. Perkawinan bukan lagi melulu soal social security dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi lebih dianggap sebagai lembaga perpaduan cinta, pemenuhan kebutuhan romantika seksual, serta pencarian companionship.
Evolusi berikutnya yang terus menguat sampai sekarang adalah model self-expressive marriage. Model ini kira-kira mulai berkembang sejak pertengahan dekade 1960, seiring dengan semangat counter-culture yang merebak saat itu, khususnya di kalangan kaum muda. Tujuan dan motivasi perkawinan mengalami perubahan: ia lebih dipandang sebagai pilihan pribadi untuk mencapai pemenuhan diri, personal fulfillment.
“You make me a better man.” Itulah ungkapan yang dikatakan oleh Jack Nicholson kepada pasangan mainnya, Helen Hunt, dalam film Hollywood “As Good As It Gets” (1997), karya sutradara James Brooks. Bagi Prof. Finkel, di balik ungkapan itulah terkandung esensi dari model perkawinan baru ini. Perkawinan bukan sekadar cinta, seks, dan pembentukan keluarga. Ia adalah sebuah eksplorasi untuk menjadi diri-yang-lebih-baik, lebih aktual, lebih bergairah. Untuk lebih memperjelasnya, Prof. Finkel juga menyitir ucapan sosiolog kenamaan, Robert N. Bellah, bahwa “love has become, in good part, the mutual exploration of infinitely rich, complex and exciting selves.”
Walaupun Prof. Finkel tidak menyinggungnya, mungkin bisa ditambahkan bahwa salah satu contoh terbaik dari model terakhir ini bisa ditemukan pada memoar perjalanan dan pencarian kehidupan yang menjadi
Halaman Selanjutnya
best-seller